Berfikir Logik pada anak usia dini
Logika membicarakan kegiatan pemikiran secara lengkap beserta
prosesnya menuju arah kebenaran, membicarakan susunan konsep dan segala sesuatu
yang menyangkut berbagai seluk-beluk kegiatan pemikiran.
Dalam buku the creative curriculum for preschool di tuliskan
bahwa tugas perkembangan kogntif pada anak di dimensi berfikir logic adalah
mengumpulkan dan membuat informasi yang masuk akal dengan menggabungkan,
membedakan, memilah, mengklasifikasikan, menghitung, mengukur, dan mengenal
pola. Anak menggunakan pemikiran logic untuk mengorganisasi dunia mereka secara
konseptual dan memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai bagaimana itu
bekerja.
Dalam psikologi, terdapat beberapa ahli yang mengulas tentang
perkembangan berfikir logis pada manusia dan disini hanya akan difokuskan
perkembangan berfikir logis pada anak usia pra sekolah.
1. Piaget
Menurut piaget (dalam santrock, 2007), anak yang berada pada
periode sensorimotor memperoleh pengetahuan tentang dunia dari
tindakan-tindakan fisik yang mereka lakukan. Seorang bayi berkembangan dari
tindakan reflektif, instingtif pada saat kelahiran hingga akhir periode ini.
Sedangkan pada tahap pra operasional, yaitu dengan rentang usia 2-7 tahun sudah
mulai menggunakan gambaran-gambaran mental untuk memahami dunianya. Walaupun
terdapat beberapa hambatan dalam pemikiran pada anak di tahap ini, seperti
egosentrisme dan sentralisasi, namun kemampuan objek permanen dan konsep sebab
akibat telah berkembang di akhir periode ini.
Jika pada tahap sensorimotor anak hanya memiliki pola
perilaku reflek, pada tahap pra operasional anak telah mulai membentuk konsep
yang stabil, memunculkan pemikiran-pemikiran mental, menumbuhkan egosentrisme,
serta terkonstruksi keyakinan-keyakinan magis.
Dalam perkembangannya, pada tahap ini terbagi menjadi dua sub
tahap perkembangan yaitu, fungsi simbolik dan pemikiran intuitif. Pada sub
tahap simbolik yang berada pada usia 2-4 tahun anak mulai memiliki kemampuan
untuk menggambarkan secara mental sebuah objek yang tidak ada. Namun demikian
pemikiran anak di tahap ini masih memiliki batasan-batasan seperti egosentrisme
dan animisme.
Selanjutnya pada sub tahap ke dua ialah intuitif yang terjadi
sekitar usia 4-7 tahun dimana anak selalu ingin tahu jawaban dari semua
pertanyaan yang ditandai dengan intensitas bertanya anak yang semakin sering.
Kelemahan di tahap ini ialah anak sulit memahami kejadian yang disadarinya
terjadi, tetapi tidak dilihatnya. Sebagai tanda periode intuitif anak
mengetahui sesuatu dan memperoleh pengetahuan tanpa menggunakan pemikiran
rasional mereka. Sebagai kelemahan kemampuan berfikir mereka di periode ini
ialah sentralisasi dimana anak hanya memusatkan perhatian pada satu
karakteristik dan mengabaikan karakteristik lainnya, yang dicontohkan dengan
kurangnya kemampuan konservasi (papalia, 2008).
Anak pada usia ini tidak hanya menunjukkan kegagalan
konservasi pada zat cair, namun juga pada angka, bahan-bahan, panjang, volume,
dan area.
Pada tahap perkembangan piaget, kemampuan berfikir logic anak
sangat erat kaitannya dengan koordinasi dan adaptasi yang di dalamnya terdapat
skema, asimilasi, dan akomodasi, selain itu kemampuan dalam operasi,
konservasi, klasifikasi, dan pemikiran hipotesis deduktif merupakan ukuran
perkembangan berfikir logis pada anak. Dan tak luput pula pada proses
equilibrasi sebagai proses yang dijalani anak dalam rangka mengembangkan
nalarnya ke tingkat yang lebih tinggi.
2. Kritik dan Neo piaget
Menurut Gelman, prestasi anak pada pra sekolah dapat ditingkatkan
dengan latihan-latihan yang bersifat perhatian pada satu dimensi, seperti angka
dan prestasi pada satu dimensi ini juga akan meningkatkan prestasi dimensi lain
seperti volume. Gelman (dalam Slavin, 2008) meyakini bahwa konservasi muncul
lebih awal dari yang dipikirkan oleh piaget asal diberikan dengan cara dan
bahasa yang sederhana, dan ia menganggap perhatian merupakan suatu hal yang
penting dalam menjelaskan konservasi.
Penelitian kemudian, yang salah satunya dilakukan oleh
siegrler menemukan bahwa permenensi objek pada anak muncul lebih awal dari yang
dikemukakan oleh piaget. Dimana permanensi objek ini penting untuk anak
mengembangkan keberadaannya dan dunianya (slavin, 2008).
Selain itu penemuan terbaru juga mengatakan bahwa pada
keadaan tertentu anak tidak memunculkan sifat egosentris, yaitu ketika ia
menyadari orang lain tidak melihat apa yang ingin dilihatnya, maka ia akan
mengamati apakah orang tersebut matanya tertutup atau sedang melihat kea rah
lain, selain itu, konsep konservasi juga didapati terjadi lebih awal yaitu
ditemui pada anak usia 3 tahun yang menurut piaget tidak akan terjadi pada anak
sebelum berusia 7 tahun.
Penemuan baru mengungkapkan bahwa anak dengan tahap tertentu
akan dapat dilatih untuk mempelajari kemampuan di tahap yang lebih tinggi
sehingga perkembangannya dapat terjadi lebih cepat dan menurut piaget itu tidak
mungkin dapat dilakukan kecuali anak telah mencapai titik transisi kedewasaan
rasional pada tahapan-tahapan tersebut.
Sedangkan para pakar neo piagetian mengemukakan penggambaran
yang lebih akurat mengenai pemikiran anak memerlukan perhatian pada
strategi-strategi anak, kecepatan anak memproses informasi, keterlibatan tugas
khusus, dan pembagian permasalahan kedalam langkah-langkah yang lebih kecil dan
tepat.
3. Vygotsky
Lev vigotsky menekankan bahwa anak-anak secara aktif menyusun
pengetahuan mereka, namun fungsi-fungsi mental memiliki koneksi-koneksi social.
Anak-anak mengembangkan konsep-konsep lebih sitematis, logis, dan rasional
sebagai akibat dari percakapan dengan seorang penolong dan ahli terkait dengan
ZPD nya, oleh sebab itu orang lain dan bahasa memegang peranan penting
(salavin, 2008).
Menurut vigotsky (dalam santrock, 2007), bahwa anak kaya
konsep namun tidak sistematis, acak, dan spontan, oleh sebab itu anak belajar
dari pakar untuk menjadi lebih sistematis, logis, dan rasional yang disebut
anak dalam ZPD. Dan untuk proses ini anak yang dalam ZPD memerlukan dialog
untuk menghubungkannya dengan cara scafoflding.
Vygotsky yakin, anak pada usia dini menggunakan bahasa untuk
merencanakan, membimbing, dan memonitor perilaku mereka. Penggunaan bahsa untuk
kemandirian kemudian diberi nama private speech.
Menurut vigotsky, bahasa dan pikiran pada awalnya berkembang
terpisah dan kemudian menyatu. Ia menekankan bahwa semua fungsi mental memiliki
sumber eksternal social dan anak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan
orang lain, sebelum mereka dapat memfokuskan kedalam pikiran-pikiran mereka
sendiri.
Selanjutnya anak usia 3 – 7 tahun akan mengembangkan
kemampuan bicara eksternal menjadi internal dan meliputi berbicara pada dirinya
sendiri hingga akhirnya mampu bertindak tanpa aktivitas verbal. Disini anak
telah menginternalisasikan pembicaraan egosentris mereka dalam bentuk inner
speech yang menjadi pemikiran-pemikiran mereka (santrock, 2007).
Ketika anak bicara pada diri sendiri, mereka menggunakan
bahasa untuk menata dan membimbing perilaku mereka.
Bagi vygotsky, point akhir kemahiran anak dapat berbeda
tergantung keahlian yang dianggap paling penting dalam budaya dan menurutnya
anak menyusun pengetahuan melalui interaksi social. Disini peran bahasa sangat
penting dalam menajamkan pemikiran.
4. Kritisi Vigotsky
Disini Barbara rogoff (dalam Santrock, 2007) mendukung teori
vygotsky dimana ia berpendapat bahwa anak menjalani suatu pelatihan berfikir
melalui partisipasi terarah dalam aktivitas social dan budaya. Partisipasi
terarah dapat terjadi ketika orang dewasa dan anak berbagi aktivitas. Orang tua
dipandang sebagai pengambil keputusan bagi anak dalam memperoleh kesempatan
untuk mengembangkan kemampuannya.
Anak juga belajar melalui observasi, dimana anak dapat
mengadopsi nilai-nilai, keahlian, dan tata karma dengan melihat dan
mendengarkan teman sebaya dan orang dewasa. Disini pembelajaran tidak hanya
terjadi dengan belajar atau duduk di kelas, tetapi juga melalui interaksi
dengan orang-orang berpengathuan.
Kesimpulan
Berfikir logic adalah mengumpulkan dan membuat informasi yang
masuk akal dengan menggabungkan, membedakan, memilah, mengklasifikasikan,
menghitung, mengukur, dan mengenal pola. Anak menggunakan pemikiran logic untuk
mengorganisasi dunia mereka secara konseptual dan memperoleh pemahaman yang
lebih baik mengenai bagaimana itu bekerja.
Anak-anak pada usia pra sekolah menurut piaget masih belum
memiliki pemikiran logic yang sempurna karena mereka terbatas dengan masalah
seperti egosentrisme, sentralisasi, animisme, dan intuitif yang membuat mereka
belum mampu melakukan konservasi secara penuh baik pada zat cair, maupun pada
angka, bahan-bahan, panjang, volume, dan area. Namun di usia ini mereka mulai
menggunakan gambaran-gambaran mental untuk memahami dunianya.
Namun, penelitian yang lebih baru mengatakan latihan dan
budaya memiliki peran dalam perkembangan berfikir anak, dan metode yang
digunakan untuk mengamati tingkah lau anak juga mempengaruhi hasil pengamatan
seperti pemberian instruksi dengan cara dan kata yang sederhana membuat anak
mampu melakukan apa yang menurut piaget belum mampu dilakukan anak, seperti
konservasi, dan kepermanenan objek yang berfungsi untuk membatu anak memahami
kejadian tetap terjadi walau mereka tidak melihatnya.
Sedangkan menurut vigotsky, bahwa bahasa berperan sangat
penting dalam perkembangan berfikir anak, dimana Anak-anak mengembangkan
konsep-konsep lebih sitematis, logis, dan rasional sebagai akibat dari
percakapan dengan seorang penolong dan ahli terkait dengan ZPD nya, oleh sebab
itu kemampuan berbahasa sangat diperlukan.
Vygotsky yakin, anak pada usia dini menggunakan bahasa untuk
merencanakan, membimbing, dan memonitor perilaku mereka. Penggunaan bahasa
untuk kemandirian kemudian diberi nama private speech. Selanjutnya anak usia 3
– 7 tahun akan mengembangkan kemampuan bicara eksternal menjadi internal dan
meliputi berbicara pada dirinya sendiri hingga akhirnya mampu bertindak tanpa
aktivitas verbal. Disini anak telah menginternalisasikan pembicaraan egosentris
mereka dalam bentuk inner speech yang menjadi pemikiran-pemikiran mereka.
Selain itu karakteristik berfikir anak pada usia 3 tahun,
mereka memiliki kemampuan mengklasifikasi dan memahami dunia namun dengan tahap
yang apaling sederhanya, bahkan mereka hanya mampu mengklasifikasikan
berdasarkan satu karakteristik dalam satu waktu.
Pada usia 4 tahun, rasa ingin tahu anak untuk mulai berfikir
sebab akibat membuat mereka jadi sering bertanya, bahkan mereka juga
menggunakan imajinasi mereka untuk memahami sesuatu, walau terkadang imajinasi
tersebut dapat memunculkan takut. Dan pada fase ini mereka masih belum terlalu
dapat membedakan antara fantasi dan fakta.
Anak pada usia 5 tahun mulai mempelajari konsep-konsep baru
melalui eksperimen dan observasi. Mereka mulai mampu memecahkan masalah dan
melakukan prediksi melalui observasi segala sesuatu yang ada disekeliling
mereka, dan menghubungkannya dengan pengetahuan yang telah mereka miliki
sebelumnya. Mereka mampu berfikir dengan cara yang lebih kompleks, seperti
menghubungkan informasi baru dengan informasi yang telah mereka ketahui. Mereka
juga telah mampu melakukan pengkategorisasian berdasatkan dua karakteristik
sekaligus, seperti bentuk dan warna.
Daftar bacaan
Papalia, E,. Diane,. Dkk. 2008. Human Development (Psikologi
perkembangan). Kencana: Jakarta
Slavin,. E,. Robert. 2008. Psikologi pedidikan teori dan
praktek jilid I. Indeks: Jakarta
Santrock,. W,.
John. 2007. Perkembangan Anak. Erlangga: Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar