TAHAP PERKEMBANGAN ANAK USIA 2-4 TAHUN
tahap perkembangan anak usia 2-4 tahun menakjubkan yang lainnya, di lihat dari 4 aspek:
1. Aspek Kognitif
Anak usia 2-4 tahun, berada dalam tahap Pra Operasional (subtahap fungsi simbolis), yaitu tahap dimana anak dapat menerima rangsangan dan memberikan respon, namun sifatnya masih terbatas karena anak masih berpikir konkret. Pemikiran pra-operasional masih mengandung dua keterbatasan : egosentris (tidak mampu membedakan perspektif sendiri dengan perspektif orang lain) dan animisme (berpikir bahwa objek tak bergerak/tak hidup memiliki kemampuan seperti makhluk hidup, misal bisa berbicara,di ajak berdialog,menyerang,dsb).
Secara umum, anak usia 2 tahun mulai bisa:
- mengelompokkan benda, misal: bentuk atau warna
- bermain peran/pura-pura
Mulai usia 3-4 tahun, anak juga mulai bisa:
- memahami konsep jumlah dan berhitung (sampai 10)
- mengenal beberapa nama warna
- memahami masalah bila dikaitkan dengan diri sendiri, "kalau aku dipukul, nanti sakit”
- paham konsep persamaan dan perbedaan dengan contoh benda yang konkret
- menyusun puzzle sederhana
- kenal susunan kata yang sudah familiar
- paham simbol dan artinya
- kenal beberapa huruf dan angka
- bermain dengan imajinasi dan fantasi
- paham konsep posisi, “di dalam”, “di luar” " di atas", "di bawah"
- bertanya dengan kata apa, siapa, kapan, dimana, bagaimana
- kenal konsep urutan kejadian
- kenal konsep waktu (sekarang, besok, dan waktu tertentu seperti “nanti malam”. Konsep lampau seperti “kemarin” lebih sulit bagi anak usia ini).
2. Aspek Fisik/Motorik
Memasuki usia 2 tahun, si bayi chubby nan menggemaskan akan semakin tumbuh memanjang, terutama bagian tungkai (tangan dan kaki). Dengan semakin matangnya fisik anak, memungkinkan anak melakukan kegiatan fisik yang sebelumnya belum dikuasai.
Anak 2 tahun mulai bisa berlari, bangun sendiri saat jatuh, mengambil dan meletakkan benda.
Sedangkan si 3-4 tahun pada umumnya sudah mulai bisa:
- naik tangga dengan kaki bergantian, turun tangga denganbmengandalkan satu kaki
- lompat dengan dua kaki
- menjaga keseimbangan
- lempar-tangkap bola dengan gerakan tubuh bagian atas (biasanya mendekap bola ke dada)
- mengendarai sepeda roda tiga
- membangun menara dari balok-balok
- memasukkan tali atau benang ke dalam lubang (misal: meronce)
- menggambar garis-garis silang dan lingkaran
- memanipulasi obyek tanah liat/playdough dengan membuat bentuk-bentuk
- mengambil dan menyusun potongan-potongan puzzle sederhana
- menggunting dengan mengikuti garis tanpa terputus
- menelusuri garis dengan alat tulis (tracing).
- meniru gambar bentuk(misalnya kotak, segitiga, lingkaran). Kemampuan ini akan sangat berperan saat anak belajar menulis huruf dan angka
- sebagian anak juga mulai menulis beberapa huruf kapital yang mudah (misalnya I, A, O, T, L)
3. Aspek Bahasa
Anak usia 2-4 tahun mengalami ledakan bahasa dengan meningkatnya jumlah kosakata yang pesat, dan mulai lebih banyak mengeksplorasi dunia sekitar mereka dengan bahasa. Aspek bahasa sangat erat kaitannya dengan aspek kognitif.
Secara umum, anak usia 2 tahun mulai bisa:
- bicara kalimat sederhana dengan 2-3 kata
- menunjuk benda/gambar yang disebutkan
- mengenali nama orang, benda, dan bagian tubuh yang familiar
- bertanya nama benda “ini apa?”
- mengikuti instruksi sederhana, “pakai baju”
- mengulangi kata yang didengar
- memahami arti gestur yang familiar, seperti anggukan (iya, boleh), gelengan (bukan, tidak, jangan), telapak tangan di depan (stop, toss)
- menjawab pertanyaan sederhana
Sedangkan anak usia 3-4 tahun, mulai bisa:
- bicara kalimat sederhana dengan 3-5 kata
- menggunakan kata ganti “aku”, “kamu”, “dia”, dan “kita”
- mengikuti instruksi bertahap, bisa 2 atau 3 tahap sekaligus. Misalnya, “pakai sepatu, ambil tas, lalu berbaris di depan pintu”
- mengingat cerita/kata-kata yang pernah didengar, sebagian/seluruhnya. Juga menceritakan kembali kejadian yang pernah dialami
4. Aspek Sosio-Emosional
Menurut Erikson, pada usia 2-3 tahun, anak akan memasuki tahap Autonomy vs Shame&Doubt (mandiri vs ragu), ditandai dengan anak yang:
- cenderung aktif mencoba berbagai hal
- mulai pintar menolak (bilang “nggak mau”)
- mulai tantrum (mau menunjukkan keinginannya)
- merasa dirinya bisa (“aku aja”,” aku bisa”) dan tidak mau di bantu
- bisa main sendiri dan tidak harus ditemani
- mulai berbagi, paham hak orang lain
Pada tahap ini, Ayah Bunda tidak perlu terlalu membatasi ruang gerak anak, karena hal ini akan mempengaruhi kelak apakah anak akan tumbuh mandiri dan berinisiatif, atau justru ragu-ragu dan selalu merasa bersalah. Biarkan anak berusaha mandiri dan bebas bereksplorasi, namun tentu saja tetap dengan batasan/aturan tertentu. Orang tua juga perlu untuk berempati dan melatih anak mengenali emosinya.
Saat anak berusia 3 tahun, diharapkan bisa:
- berpisah dari orang tua tanpa menolak
- menjukkan kasih sayang ke saudara / teman
- memahami konsep kepemilikan, lebih paham aturan dan kooperatif
- bisa mengungkapkan emosi, bukan dengan menangis
- temperamen cenderung stabil
- semakin mandiri untuk perawatan diri (seperti mandi, buang air, pakai baju)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar