Selasa, 16 Juli 2019

Berfikir Logik pada anak usia dini

Berfikir Logik pada anak usia dini 

Logika membicarakan kegiatan pemikiran secara lengkap beserta prosesnya menuju arah kebenaran, membicarakan susunan konsep dan segala sesuatu yang menyangkut berbagai seluk-beluk kegiatan pemikiran.

Dalam buku the creative curriculum for preschool di tuliskan bahwa tugas perkembangan kogntif pada anak di dimensi berfikir logic adalah mengumpulkan dan membuat informasi yang masuk akal dengan menggabungkan, membedakan, memilah, mengklasifikasikan, menghitung, mengukur, dan mengenal pola. Anak menggunakan pemikiran logic untuk mengorganisasi dunia mereka secara konseptual dan memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai bagaimana itu bekerja.
Dalam psikologi, terdapat beberapa ahli yang mengulas tentang perkembangan berfikir logis pada manusia dan disini hanya akan difokuskan perkembangan berfikir logis pada anak usia pra sekolah.
1. Piaget

Menurut piaget (dalam santrock, 2007), anak yang berada pada periode sensorimotor memperoleh pengetahuan tentang dunia dari tindakan-tindakan fisik yang mereka lakukan. Seorang bayi berkembangan dari tindakan reflektif, instingtif pada saat kelahiran hingga akhir periode ini. Sedangkan pada tahap pra operasional, yaitu dengan rentang usia 2-7 tahun sudah mulai menggunakan gambaran-gambaran mental untuk memahami dunianya. Walaupun terdapat beberapa hambatan dalam pemikiran pada anak di tahap ini, seperti egosentrisme dan sentralisasi, namun kemampuan objek permanen dan konsep sebab akibat telah berkembang di akhir periode ini.

Jika pada tahap sensorimotor anak hanya memiliki pola perilaku reflek, pada tahap pra operasional anak telah mulai membentuk konsep yang stabil, memunculkan pemikiran-pemikiran mental, menumbuhkan egosentrisme, serta terkonstruksi keyakinan-keyakinan magis.
Dalam perkembangannya, pada tahap ini terbagi menjadi dua sub tahap perkembangan yaitu, fungsi simbolik dan pemikiran intuitif. Pada sub tahap simbolik yang berada pada usia 2-4 tahun anak mulai memiliki kemampuan untuk menggambarkan secara mental sebuah objek yang tidak ada. Namun demikian pemikiran anak di tahap ini masih memiliki batasan-batasan seperti egosentrisme dan animisme.
Selanjutnya pada sub tahap ke dua ialah intuitif yang terjadi sekitar usia 4-7 tahun dimana anak selalu ingin tahu jawaban dari semua pertanyaan yang ditandai dengan intensitas bertanya anak yang semakin sering. Kelemahan di tahap ini ialah anak sulit memahami kejadian yang disadarinya terjadi, tetapi tidak dilihatnya. Sebagai tanda periode intuitif anak mengetahui sesuatu dan memperoleh pengetahuan tanpa menggunakan pemikiran rasional mereka. Sebagai kelemahan kemampuan berfikir mereka di periode ini ialah sentralisasi dimana anak hanya memusatkan perhatian pada satu karakteristik dan mengabaikan karakteristik lainnya, yang dicontohkan dengan kurangnya kemampuan konservasi (papalia, 2008).
Anak pada usia ini tidak hanya menunjukkan kegagalan konservasi pada zat cair, namun juga pada angka, bahan-bahan, panjang, volume, dan area.
Pada tahap perkembangan piaget, kemampuan berfikir logic anak sangat erat kaitannya dengan koordinasi dan adaptasi yang di dalamnya terdapat skema, asimilasi, dan akomodasi, selain itu kemampuan dalam operasi, konservasi, klasifikasi, dan pemikiran hipotesis deduktif merupakan ukuran perkembangan berfikir logis pada anak. Dan tak luput pula pada proses equilibrasi sebagai proses yang dijalani anak dalam rangka mengembangkan nalarnya ke tingkat yang lebih tinggi.
2. Kritik dan Neo piaget

Menurut Gelman, prestasi anak pada pra sekolah dapat ditingkatkan dengan latihan-latihan yang bersifat perhatian pada satu dimensi, seperti angka dan prestasi pada satu dimensi ini juga akan meningkatkan prestasi dimensi lain seperti volume. Gelman (dalam Slavin, 2008) meyakini bahwa konservasi muncul lebih awal dari yang dipikirkan oleh piaget asal diberikan dengan cara dan bahasa yang sederhana, dan ia menganggap perhatian merupakan suatu hal yang penting dalam menjelaskan konservasi.

Penelitian kemudian, yang salah satunya dilakukan oleh siegrler menemukan bahwa permenensi objek pada anak muncul lebih awal dari yang dikemukakan oleh piaget. Dimana permanensi objek ini penting untuk anak mengembangkan keberadaannya dan dunianya (slavin, 2008).
Selain itu penemuan terbaru juga mengatakan bahwa pada keadaan tertentu anak tidak memunculkan sifat egosentris, yaitu ketika ia menyadari orang lain tidak melihat apa yang ingin dilihatnya, maka ia akan mengamati apakah orang tersebut matanya tertutup atau sedang melihat kea rah lain, selain itu, konsep konservasi juga didapati terjadi lebih awal yaitu ditemui pada anak usia 3 tahun yang menurut piaget tidak akan terjadi pada anak sebelum berusia 7 tahun.
Penemuan baru mengungkapkan bahwa anak dengan tahap tertentu akan dapat dilatih untuk mempelajari kemampuan di tahap yang lebih tinggi sehingga perkembangannya dapat terjadi lebih cepat dan menurut piaget itu tidak mungkin dapat dilakukan kecuali anak telah mencapai titik transisi kedewasaan rasional pada tahapan-tahapan tersebut.
Sedangkan para pakar neo piagetian mengemukakan penggambaran yang lebih akurat mengenai pemikiran anak memerlukan perhatian pada strategi-strategi anak, kecepatan anak memproses informasi, keterlibatan tugas khusus, dan pembagian permasalahan kedalam langkah-langkah yang lebih kecil dan tepat.
3. Vygotsky

Lev vigotsky menekankan bahwa anak-anak secara aktif menyusun pengetahuan mereka, namun fungsi-fungsi mental memiliki koneksi-koneksi social. Anak-anak mengembangkan konsep-konsep lebih sitematis, logis, dan rasional sebagai akibat dari percakapan dengan seorang penolong dan ahli terkait dengan ZPD nya, oleh sebab itu orang lain dan bahasa memegang peranan penting (salavin, 2008).

Menurut vigotsky (dalam santrock, 2007), bahwa anak kaya konsep namun tidak sistematis, acak, dan spontan, oleh sebab itu anak belajar dari pakar untuk menjadi lebih sistematis, logis, dan rasional yang disebut anak dalam ZPD. Dan untuk proses ini anak yang dalam ZPD memerlukan dialog untuk menghubungkannya dengan cara scafoflding.
Vygotsky yakin, anak pada usia dini menggunakan bahasa untuk merencanakan, membimbing, dan memonitor perilaku mereka. Penggunaan bahsa untuk kemandirian kemudian diberi nama private speech.
Menurut vigotsky, bahasa dan pikiran pada awalnya berkembang terpisah dan kemudian menyatu. Ia menekankan bahwa semua fungsi mental memiliki sumber eksternal social dan anak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain, sebelum mereka dapat memfokuskan kedalam pikiran-pikiran mereka sendiri.
Selanjutnya anak usia 3 – 7 tahun akan mengembangkan kemampuan bicara eksternal menjadi internal dan meliputi berbicara pada dirinya sendiri hingga akhirnya mampu bertindak tanpa aktivitas verbal. Disini anak telah menginternalisasikan pembicaraan egosentris mereka dalam bentuk inner speech yang menjadi pemikiran-pemikiran mereka (santrock, 2007).
Ketika anak bicara pada diri sendiri, mereka menggunakan bahasa untuk menata dan membimbing perilaku mereka.
Bagi vygotsky, point akhir kemahiran anak dapat berbeda tergantung keahlian yang dianggap paling penting dalam budaya dan menurutnya anak menyusun pengetahuan melalui interaksi social. Disini peran bahasa sangat penting dalam menajamkan pemikiran.
4. Kritisi Vigotsky

Disini Barbara rogoff (dalam Santrock, 2007) mendukung teori vygotsky dimana ia berpendapat bahwa anak menjalani suatu pelatihan berfikir melalui partisipasi terarah dalam aktivitas social dan budaya. Partisipasi terarah dapat terjadi ketika orang dewasa dan anak berbagi aktivitas. Orang tua dipandang sebagai pengambil keputusan bagi anak dalam memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya.

Anak juga belajar melalui observasi, dimana anak dapat mengadopsi nilai-nilai, keahlian, dan tata karma dengan melihat dan mendengarkan teman sebaya dan orang dewasa. Disini pembelajaran tidak hanya terjadi dengan belajar atau duduk di kelas, tetapi juga melalui interaksi dengan orang-orang berpengathuan.
Kesimpulan

Berfikir logic adalah mengumpulkan dan membuat informasi yang masuk akal dengan menggabungkan, membedakan, memilah, mengklasifikasikan, menghitung, mengukur, dan mengenal pola. Anak menggunakan pemikiran logic untuk mengorganisasi dunia mereka secara konseptual dan memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai bagaimana itu bekerja.

Anak-anak pada usia pra sekolah menurut piaget masih belum memiliki pemikiran logic yang sempurna karena mereka terbatas dengan masalah seperti egosentrisme, sentralisasi, animisme, dan intuitif yang membuat mereka belum mampu melakukan konservasi secara penuh baik pada zat cair, maupun pada angka, bahan-bahan, panjang, volume, dan area. Namun di usia ini mereka mulai menggunakan gambaran-gambaran mental untuk memahami dunianya.
Namun, penelitian yang lebih baru mengatakan latihan dan budaya memiliki peran dalam perkembangan berfikir anak, dan metode yang digunakan untuk mengamati tingkah lau anak juga mempengaruhi hasil pengamatan seperti pemberian instruksi dengan cara dan kata yang sederhana membuat anak mampu melakukan apa yang menurut piaget belum mampu dilakukan anak, seperti konservasi, dan kepermanenan objek yang berfungsi untuk membatu anak memahami kejadian tetap terjadi walau mereka tidak melihatnya.
Sedangkan menurut vigotsky, bahwa bahasa berperan sangat penting dalam perkembangan berfikir anak, dimana Anak-anak mengembangkan konsep-konsep lebih sitematis, logis, dan rasional sebagai akibat dari percakapan dengan seorang penolong dan ahli terkait dengan ZPD nya, oleh sebab itu kemampuan berbahasa sangat diperlukan.
Vygotsky yakin, anak pada usia dini menggunakan bahasa untuk merencanakan, membimbing, dan memonitor perilaku mereka. Penggunaan bahasa untuk kemandirian kemudian diberi nama private speech. Selanjutnya anak usia 3 – 7 tahun akan mengembangkan kemampuan bicara eksternal menjadi internal dan meliputi berbicara pada dirinya sendiri hingga akhirnya mampu bertindak tanpa aktivitas verbal. Disini anak telah menginternalisasikan pembicaraan egosentris mereka dalam bentuk inner speech yang menjadi pemikiran-pemikiran mereka.
Selain itu karakteristik berfikir anak pada usia 3 tahun, mereka memiliki kemampuan mengklasifikasi dan memahami dunia namun dengan tahap yang apaling sederhanya, bahkan mereka hanya mampu mengklasifikasikan berdasarkan satu karakteristik dalam satu waktu.
Pada usia 4 tahun, rasa ingin tahu anak untuk mulai berfikir sebab akibat membuat mereka jadi sering bertanya, bahkan mereka juga menggunakan imajinasi mereka untuk memahami sesuatu, walau terkadang imajinasi tersebut dapat memunculkan takut. Dan pada fase ini mereka masih belum terlalu dapat membedakan antara fantasi dan fakta.
Anak pada usia 5 tahun mulai mempelajari konsep-konsep baru melalui eksperimen dan observasi. Mereka mulai mampu memecahkan masalah dan melakukan prediksi melalui observasi segala sesuatu yang ada disekeliling mereka, dan menghubungkannya dengan pengetahuan yang telah mereka miliki sebelumnya. Mereka mampu berfikir dengan cara yang lebih kompleks, seperti menghubungkan informasi baru dengan informasi yang telah mereka ketahui. Mereka juga telah mampu melakukan pengkategorisasian berdasatkan dua karakteristik sekaligus, seperti bentuk dan warna.
Daftar bacaan

Papalia, E,. Diane,. Dkk. 2008. Human Development (Psikologi perkembangan). Kencana: Jakarta

Slavin,. E,. Robert. 2008. Psikologi pedidikan teori dan praktek jilid I. Indeks: Jakarta
Santrock,. W,. John. 2007. Perkembangan Anak. Erlangga: Jakarta

PENGEMBANGAN FISIK MOTORIK MELALUI PERMAINAN KREATIF

PENGEMBANGAN FISIK MOTORIK MELALUI PERMAINAN KREATIF Pengertian Permainan Kreatif Istilah permainan kreatif sebenarnya tidak mengacu pada tipe permainan, tetapi pada pendekatan pembelajaran yang digunakan. Pendekatan permainan kreatif digunakan sebgai dasar untuk meracang sebuah kurikulum yang disebut dengan model kurikulum permiana kreatif. Model ini awalnya dikembangkan di Universitas Tenesse, Knoxville pada tahun 1985. Secara teoritis model ini berbijak pada teori perkembangan Jean Piaget, model pembelajaran konstruktif dan praktik pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan (developmentally appropriate practise) anak usia dini yang dikeluarkan oleh NAEYC. Menurut komite kebijakan laboratorium perkembangan anak tahun 1985 seperti yang dikutip Catron dan Allen , pengoptimalan perkembangan anak yang ingin dicapai kelalui permainan kreatif ini secara terperinci meliputi: 1. Nilai diri dan kepercayaan diri 2. Kepercayaan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama 3. Hubungan interpersonal dan keterapilan berkomunikasi yang efektif 4. Kemampuan untuk bersikap atau berfikir secara mandiri dan mengembangkan kontrol diri 5. Keterampilan untuk mengmukakan gagasan dan perasaannya 6. Pemahaman dan pengelolaan informasi tentang lingkungan fisik dan sosialnya 7. Pemerolehn dan penggunaan keterampilan untuk memecahkan masalah 8. Rasa ingin tahu tentang dunia disekitar nya dan rasa nyaman dalam belajar dan bereksplorasi Pendekatan permainan kreatif juga berhubungan erat denga potensi kreatif yang dimiliki tiap anak menurut Tegano (1991) seperti yang dikutip oleh Catron dan Allen dalam bukanya Early Curicullum a Creative Play Model potensi kreatif anak dapat dilihat dari 2 sisi yaitu karakteristik kognitif dan kepribadian. Karakterisitik kognitif yang mencerminkan kreatifitas tersebut meliputi: 1. Fantasi, yang biasanya dikembangkan saat anak bermain sosio drama atau bermain pura-pura 2. Berfikir divergen, yaitu dengan munculnya beragam tanggapan, pertanyaan dan gagasan anak 3. Rasa ingin tau, yang meliputi bertanya, menyelidik dan menguji coba sesuatu 4. Berfikir metaforik, yaitu menghasilkan atau mengelola sesuatu menjadi suatu hal yang baru Sedangkan karakteristik kepribadian yang mencerminkan kreatifitas meliputi : 1. Karakter kreatif, yaitu mudah menyesuaikan diri, daya tahan tinggi, keterlibata yang tinggi dalam kegiatan dan tidak mudah berputus asa 2. Tidak terikat dengan kelaziman/ konfensi yang berlaku, dimana anak beriorientasi pada sesuatu yang asli baru dan luwes 3. Berani mengambil resiko, yaitu kemauan untuk menerima tantanga atau mengambil resko kesalahan 4. Motivasi tinggi, sebagai pendorong dan kontrol dari internal Permaianan Kreatif Bagi Pengembangan Fisik Motorik Permaianan kreatif aka mendorong kebutuhan anak untuk secara aktif berinteraksi dan terlibat dengan lingkungan fisiknya. Sejak bayi, anak mulai mempelajari dunia sekitarnya melalui sensori motornya. Kegiatan ini akan terus berkembang seiring dengan kematangan dan keterampilan dari berbagai fungsi tubuhnya. Melalui permainan kreatif, anak berkesempatan memperkaya gerakan-gerakannya. Berbagai gerakan sensori motor, tangan, kaki, kepala, atau bagian tubuhnya yang lain melibatkan baik otot besar maupun otot kecil anak sehingga memungkinkan anak untuk secara penuh mengembangkan kemampuan fisik motoriknya. Singkatnya permainan kreatif akan mendukung perkembangan fisik motorik anak dalam beberapa aspek seperti yang diuraikan berikut ini: 1. Koordinasi mata dengan tangan atau mata dengan kaki, meliputi kegiatan menggambar, menulis , memanipulasi atau memainkan objek, latihan ingatan visual, melempar, menangkap dan menendang 2. Keterampilan gerakan lokomotor meliputi berjalan, melompat, melonjat, berlari, berguling, merayap, dan meragkak. 3. Keterampilan gerekan nonlokomotor, meliputi duduk, berdiri, melambaikan tangan, hadap kanan-kiri, merentangkan tangan, membungkuk dan jongkok 4. Pengelolaan dan pengendalian tubuh, meliputi pemahaman akan fungsi tubuhnya, pemahaman tentang jarak, irama, keseimbangan, kemampuan untuk memulai atau mengakhiri gerakan dan melaksanakan perintah. Kegiatan yang dapat dilakukan misalnya berjalan diatas dipapan titian, mengikuti jejak, senam irama, mengukur jarak dengan melangkah atau melompat, lomba lari. Peran Guru Dalam Permainan Kreatif Bermain merupakan sarana bagi anak untuk mengungkapkan kreatifitasnya. Melalui bermain, anak dapat menganalisis berbagai situsi atau benda dan mencoba menemukan cara baru untuk menatanya kembali. Misalnya, saat bermain bongkar pasang dengan balok, anak bisa membuat bentuk mercusuar, kemudian dibongkar lagi membuat sebuah terowongan bawah tanah, dibongkar lagi, lalu membuat gedung perkantoran. Anak juga dapat menemukan fungsi baru yang berbeda dari suatu benda yang tidak biasanya misalnay kursi ia balikan untuk dijadikan kuda-kuadaan anak juga dapat menjalin hubungan baru dnega teman-temannya yang semula ia tidak kenal. Bermain juga merupakan sarana bagi anak untuk berfantasi, berimajinasi, yang akan membantunya menemukan gagasan baru, misalnya seandainya aku bisa terbang, apa yang akan aku lakukan? Seandainya aku bisa bicara denga semut, apa saja yang akan diceritakan semut itu padaku? Guru memegang peranan penting dalam proses kreatif saat anak-anak bermain. Guru diharapkan mempunyai kepekaan yang tinggi untuk tidak membuat anak-anak ngambek ditengah-tengah proses kreatif mereka. Guru semestinya faham kapan saatnya membiarkan pembelajaran kreatifitas tetap berjalan dan bagaimana menjaga supaya pemikiran dan gagasan anak tetap lancar mengalir. Berikut ini ada beberapa kiat-kiat yang dapat digunakan untuk memotivasi proses kreatif pada anak. 1. Guru perlu menanggapi dan menghargai setiap pertanyaan anak meskipun pertanyaan tersebut aneh, unik atau tidak lazim 2. Guru perlu mengembangkan kesempatan bagi anak untuk melakukan berbagai kegiatan dengan inisiatif sendiri. 3. Anak-anak perlu tau bahwa gagasan-gagasan mereka menarik dan bernilai. 4. Guru perlu belajar untuk tidak terkaget-kaget dengan solusi atau gagasan yang tidak lazim yang dikemukakan anak 5. Anak semestinya dapat melakukan pemikiran kreatif dalam suasana bebas hukum. 6. Guru perlu memahami betul bahwa proses kreatif yang ada dalam pikiran anak lebih penting dari pada kegiatan yang harus dilakukan anak. 7. Kreatifitas tidak hanya milik artis atau seniman. 8. Kadang pengarahan tertentu dari guru akan memotivasi anak untuk meninjau ulang gagasannya, apakah ada yang perlu diubah atau tetap seperti semula. 9. Guru selayaknya menghindari penilaian yang terlalu dini terhadap gagasan baru dari anak. RANCANGAN BERBAGAI PERMAINAN KREATIF UNTUK PENGEMBANGAN FISIK MOTORIK DI TK A. Kurikulum Bermain Kreatif Dalam Pengembangan Fisik Motorik Pada Pembelajaran di TK, permainan kreatif untuk mengembangkan fisik-motorik anak dapat dilakukan setidaknya melalui 3 jenis kegiatan bermain yaitu latihan (practice play), bermain simbolik (symbolic play) dan perlombaan dengan aturan (games with rules). Berikut akan dijelaskan 3 jenis permainan tersebut secara terperinci. 1. Latihan Jenis permainan ini banyak digunakan untuk bayi atau anak di bawah usia tiga tahun. Namun kegiatan ini juga tetap dapat dilakukan anak TK dengan memperhatikan tingkat kesulitannya. Bentuk kegiatan latihan ini sangat bervariasi dan dilakukan dalam suasana yang menyenangkan sehingga anak-anak selalu tertarik untuk mencoba dan mencoba lagi. Kegiatan yang dapat dilakukan, misalnya mengajak anak belajar berjalan, merangkak, menyediakan berbagai benda di sekitar anak dengan warna dan bentuk yang bervariasi untuk diselidiki dengan sensori motornya, mengajak anak memanjat, berlari atau menari. Permainan dengan puzzle dan rancang bangun balok secara sederhana juga dapat diberikan pada anak usia ini, sebagai persiapan untuk membantunya menuju ke tahap permainan berikutbya, yaitu bermain simbolis. 2. Permainan Simbolik Permainan simbolik banyak dilakukan saat anak berusia 2-7 tahun, yang terbagi dalam 2 tahap, yaitu bermain pura-pura untuk anak usia 2-4 tahun dan bermain drama untuk anak usia 4-7 tahun. Pada bahasan ini hanya akan diuraikan tentang bermain drama sesuai dengan tahap usia anak TK. Bermain drama akan memberikan kesempatan pada anak untuk mengeksplorasi peran dan kemampuannya tanpa takut akan kegagalan. Anak-anak dapat memerankan berbagai tokoh dalam cerita yang disukainya dengan menggunakan berbagai media, seperti boneka, kostum, topeng, sekaligus memperlancar keterampilan berkomunikasi verbalnya dan penggunaan fungsi motoriknya uang lain. Permainan drama ini, sangat bermanfaat untuk mengembangkan pengendalain gerak tubuh. Melalui permainan drama ini anak juga akan meningkatkan rasa percaya diri terhadap kemampuan fisiknya dan berkesempatan untuk mengekspresikan kreativitasnya. Berbagai gerakan tubuh yang dilakukan saat bermain lambat laun akan meningkat sehingga anak mampu menghasilkan gerakan tubuh yang indah dan benar. Salah satu bentuk bermain drama adalah bermain cerita (story play). Melalui cerita, anak dapat bermain dengan berbicara atau melakukan gerakan sesuai kata-kata yang ada dalam cerita. Pemilihan cerita untuk pengembangan fisik harus dilakukan dengan hati-hati. Bentuk permainan drama yang lain adalah bermain situasi-peran (role situation play). Berbagai pengalaman sehari-hari dapat diangkat dalam jenis permainan ini. Anak-anak dapat berdiskusi dengan guru untuk merancang scenario cerita yang akan digunakan untuk bermain. Skenario cerita untuk bermain situasi peran ini sangat memerlukan imajinasi dari perancangnya supaya gerakan yang dilakukan anak-anak dapat bervariasi, menyenangkan dan tidak membahayakan. Salah satu cara bermain drama situasi-peran adalah mimetik atau permainan meniru kegiatan-kegiatan yang sudah dikenal tanpa peralatan apa pun. Mimetik ini membutuhkan imajinasi anak-anak untuk dapat melakukannya. Bernagai hal bisa ditiru anak , misalnya menangkap kupu-kupu, memotong kayu, memanjat dinding, menggali lubang, menunggang kuda, menjemur pakaian, mendayung kapal, menyanyi, seperti bintang dan berenang seperti ikan. Mimetik dimulai dari tiruan yang sederhana, sebaiknya guru dapat mendiskusikannya dulu dengan anak-anak untuk memeberikan kesempatan pada mereka mengelaborasi dan mengeksplorasi apa yang ingin ditiru. Ada satu lagi bentuk permaina drama yang dapat dilakukan anak TK, yaitu bermain drama dengan irama kreatif (creative rhythms-dramatic play). Jenis permainan ini melibatkan gerakan motorik yang cukup sulit bagi anak karena selain bergerak anak juga harus mempunyai pendengaran yang tajam agar gerakannya sesuai dengan irama yang dimainkan. Biasanya irama gerakan dihasilkan dari suara drum atau perkusi baik langsung maupun rekaman. Irama kreatif dalam permainan ini dapat dipilih dari yang termudah, yaitu irama bebas (free rhythms), irama teridentifikasi (identification rhythms) atau drama bermain (dramatic rhythms). Saat bermain dengan irama bebas, tiap anak awalnya diperbolehkan untuk menaggapi gerakan sesuai keinginannya saat dia mendengar irama yang dimainkan. Beberapa konsep yang dapat dikombinasikan dalam irama bebas yaitu: a. Konsep Posisi, yaitu tinggi-rendah, besar-kecil, dan lain-lain. Perintah yang dapat dilakukan, misalnya maju kedepan, mundur ke belakanng, berjalan lurus, berbelok, jalan zigzag, loncat keatas, kepala tunduk kebawah, jongkok-berdiri. b. Konsep waktu, yaitu cepat-lambat, lama-singkat, dipercepat, diperlambat, dan lain-lain. Misalnya, anak diminta berjalan di tempat dengan tempo lambat, makin lama makin cepat sehingga akhirnya, seperti berlari di tempat. c. Konsep daya, yaitu diam-bergerak, berpindah-berhenti, banyak sedikit, berat-ringan, kuat-lemah, bertambah-berkurang, gerakan kuat-gerakan lembut dll. Misalnya, gerakan kedua tangan diangkat ke atas di depan wajah, seperti orang sedang berdoa, lalu secara bersama-sama tangn diturunkan sampai ke posisi di samping tubuh. d. Konsep komposisi tubuh, yaitu sendirian, berpasangan, bersilangan. Berdiri diatas pundak teman, duduk di pangkuan teman, bergandengan, dll. Gerakan ini merupakan bekal untuk gerakan menari atau senam. e. Konsep ekspresi wajah, yaitu marah, sedih, kecewa, takut, berharap, malas, lemas, serius, lelah, gembira dan lain-lain. f. Jenis permainan drama dengan irama kreatif yang kedua adalah irama identifikasi, yaitu menirukan gerakan atau menggunakannya untuk bergerak dari binatang, tanaman, kejadian, benda atau orang yang sudah diketahui anak diikuti dengan irama atau lagu tertentu. g. Jenis gerakan berirama yang ketiga dan yang paling sulit adalah drama berirama, yang biasanya lebih dikenal dengan sebutan operet. Dalam gerakan ini sudah ada alur cerita tertentu yang disiapkan, tetapi semua alur tersebut dilakukan melalui serangkaian gerakan berirama yang kadang-kadang diselingi nyanyian, bukan kata-kata ucapan biasa. Dalam operet ini guru perlu menjelaskan alur cerita yang diinginkan dan mempersilakan anak untuk terlebih dulu mencoba menginterpretasikan gerakan yang sesuai. Jadi, diusahakan gerakan muncul dari anak, bukan contoh dari guru. Jika anak merasa kesulitan menginterpretasikan gerakan tertentu, baru guru membantunya. Guru juga perlu memberikan masukan agar gerakan anak selaras dengan music/lagu yang dimainkan. 3. perlombaan Jenis permainan perlombaan biasanya dilakuka saat anak berusia 7 – 12 tahu, namun juga dapat dilakukan untuk aak – anak usia TK. Jika perlombaan akan diterapkan untuk anak TK maka ada rambu – rambu yang harus diperhatikan, yaitu : a. Mengenalkan perlombaan dengan penerapan aturan secara bertahap dan membebaskan pada anak untuk terlibat atau tidak terlibat dalam lomba. b. Memilih perlombaan yang gembira, aturannya luwes dan memperbolehkan anak – anak untuk memodifikasi aturan supaya mereka mau aktif terlibat dalam perlombaan. c. Memilih beragam perlombaan yang mengembangkan berbagai tingkatan perkembangan keterampilan motorik dan lebih menekankan pada tantangan dalam perlombaan itu, bukan untuk mencari siapa yang menang atau siapa yang kalah. Berbagai perlombaan dalam olahraga dapat dirancang oleh guru. dalam hal ini guru perlu mempertimbangkan 2 hal. Pertama, pengelolaan perlombaan yang sesuai dengan perkembangan anak. Kedua, tidak mementingkan aspek persaingan dalam perlombaan tersebut, tetapi lebih mementingkan kerja sama/ kooperatif. Persaingan biasanya menimbulkan rasa frustasi bagi anak yang kalah atau kebanggan yang berlebihan sebagai seorang bintang bagi yang menang. Sedangkan perlombaan kooperatif (cooperative play) akan memungkinkan setiap anak menjadi pemain dengan cara bekerja sama, tanpa dibebani kekhawatiran tentang nilai atau menang kalah. Berikut ini adalah langkah – langkah yang perlu diperhatikan untuk merancang permainan sesuai dengan perkembangan fisik – motorik anak : a. Menyediakan lingkungan yang memungkinkan anak untuk bebas mencoba dan menjelajahi berbagai benda,kegiatan maupun peralatan. b. Mengorganisasikan lingkungan didalam dan diluar kelas untuk memberikan kesempatan pada anak mengembangkan keterampilan motoriknya melalui permainan simbolis. c. Membiarka anak untuk bergabung dalam perlombaan secara berkelompok saat perkembangan mereka sudah siap, dari pada mengharuskan mereka untuk ikut dalam sebuah lomba atau olahraga. Jika anak sudah tertarik untuk bergabung dalam sebuah grup lomba, utamakan perlombaa yang mengasah kemampuan memecahkan masalah, kreativitas, dan kerja sama dari pada perlombaan yang yang terpaku pada aturan atau mengutamakan persaingan. d. Mendorong anak untuk menguji keterampilan motoriknya dalam suasana yang membantu anak mencapai keberhasilan sesuai tingkat perkembangan keterampilan motoriknya. e. Membangun anak membangun kesan diri yag positif tentang perkembagan fisik motoriknya dengan cara merencanakan kegiatan yang sesuai dengan tingkatan keterampilan dan minatnya. B. BENTUK – BENTUK BERMAIN KREATIF DALAM PENGEMBANGAN FISIK – MOTORIK di TK Mengembangan fisik motorik di TK melalui permainan kreatif memerlukan perencanaan yang matang agar pelaksanaanya dapat sesuai dengan yang kita inginkan. Untuk memulai rancangan permainan tersebut, terlebih dahulu kita perlu mengidentifikasi aspek tujuan pengembangan fisik – motorik yang diinginkan, kemudian mencari jenis permainan yang sesuai.setelah itu pikirkan apa saja alat atau perlengkapan yang dibutuhkan untuk permainan tersebut dan kelompok mana yang melakukan permainan tersebut, kelas A atau kelas B. berikut ini adalah beberapa contoh permainan kreatif sesuai dengan aspek tujuan yang diinginkan: 1. Permainan kreatif untuk gerakan motorik halus a. Aku dapat memakai baju sendiri (jenis : latihan) 1) Tujuannya mengenalkan berbagai keterampilan hidup mandiri khususnya memaakai baju, melatih koordinasi mata dan tangan. 2) Sasarannya aak TK kelas A (4 - tahun) 3) Sarananya memakai baju ukuran sedang yang dapat dipakai semua anak. 4) Cara bermain a) Guru memegang pakaian/ hem yang kancingnya telah dibuka sambil direntangkan didepan anak – anak. b) Anak diminta maju kedepan kelas dan membelakangi baju lalu memasukkan tangannya ke lengan baju, dimulai dari memasukkan tangan kanan ke lengan baju disusul tangan yang kiri ke lengan baju satunya. c) Guru juga dapat meletakkan baju dipunggung anak, lalu anak diminta memasukkan tangannya ke lengan baju didekatnya. d) Jika aak sudah terampil, baju dapat dipegang anak sendiri dan guru hanya mengarahkan. Anak yang sudah terampil juga dapat diminta untuk membantu temannya yang belum terampil memakai baju. e) Untuk menghidupkan permainan, dapat diadakan perlombaan antara kelompok anak untuk berlomba memakai baju dari seluruh anggota kelompok. Jumlah tiap anggota kelompok harus sama, dan diberikan batasan waktu untuk memakai baju, misalnya dengan aba – aba peluit oleh guru. pemenangnya adalah kelompok yang anggota – anggotanya paling rapi (misalnya, kancing terpasang dengan benar) dan berhasil paling banyak memakai baju. b. Topeng / boneka dari piring kertas (jenis : permainan konstruktif/ seni) 1) Tujuannya anak terampil dalam koordinasi mata – tangan dengan cara melipat, menggunting dan menempel. 2) Sarananya piring kertas untuk kue, karet gelang, kertas krep/ origami berbagai warna, spidol benang wol. 3) Sasarannya anak tk kelas B 4) Cara bermain a) Guru memberi contoh cara membuat topeng dari piring kertas utuh, anak – anak memperhatikan lalu mengikuti contoh dari guru. b) Cara membuat topeng / boneka 1) Membuat bentuk mata 2 buah dan mulut dari kertas krep/ origami warna – warni, dengan cara menggambarnya terlebih dahulu lalu digunting. 2) Piring kertas dihias dengan menempelkan mata dan mulut dari kertas krep/ origami warna – warni. Untuk bagian hidung sudah dibuatka lubang segitiga oleh guru (agar saat anak memakai topeng tidak kesulitan untuk bernapas. Guru juga sudah menyiapkan lubang kecil ditepi kiri dan kanan piring untuk memasang karet. 3) Beberapa benang wol dapat ditempel dibagian atas piring sebagai poni rambut. 4) Karet dipasangkan dilubang kiri dan kanan yang sudah dipersiapkan guru. 5) Topeng dapat dipakai anak – anak dengan memasang tiap karet tersebut ke dua telinga. Karet gelang dapat diganti dengan menempel stik kayu kurang lebih 30 cm, untuk dipegang dan ap karet tersebut ke dua telinga. Karet gelang dapat diganti dengan menempel stik kayu kurang lebih 30 cm, untuk dipegang dengan tangan saat anak – anak ingin memakai topeng. 6) Guru dapat juga memberikan alternatif bentuk boneka dari piring kertas, dengan cara melipat piring kertas menjadi 2 bagian seolah – olah sebagai rahang atas. Setengah lingkaran yang depan (dengan garis tengah lingkaran di bagian atas ), lalu hiasi mata, hidung, dan mulut dari kertas origami. Boneka tersebut dapat dimainkan dengan memeganginya diantara ibu jari dan telunjuk saat bercakap – cakap 7) Anak – anak dapat memilih membuat bentuk topeng atau boneka sesuai keinginan. 2. Permaina kreatif untuk gerakan lokomotor a. Berkunjung kekebun binatang (jenis : drama – irama teridentifikasi) 1) Tujuan Mengenalkan anak dengan berbagai gerakan binatang . Melatih anak menyesuaikan gerakan denga irama/ nyayian. 2) Sarananya tape recorder, kaset. 3) Sasarannya anak TK kelas A 4) Cara bermain a) Anak – anak berdiri membentuk lingkaran, guru berdiri ditengah – tengah lingkaran. Tempat bermain bisa didalam atau diluar kelas. b) Guru memainkan llagu kebun binatang dari tape recorder, sambil mencontohkan gerakan yang diinginkan. c) Anak – anak menirukan gerakan guru. pada baris kedua terakhir, anak – anak menghadap kekanan dan berjalan kedepan, tetapi tetap dalam lingkaran menirukan gerakan kelinci melompat. Pada baris terakhir dari lagu anak – anak berbalik dan berjalan lagi seperti tadi. d) Binatang yang ada dalam nyanyian dapat diganti syairnya (baris ke – 4 ). Misalnya dengan gajah – gajah yang besar, kera – kera yang lincah, bebek – bebek yang lucu, katak – katak yang lincah dan lain – lain. Anak – anak bergerak menirukan cara binatang berjalan menyesuaikan syair yang diganti tersebut. e) Jika anak sudah dapat menghafal lagu maka guru dapat menggantikan tape recorder denga nyanyian dari anak – anak langsung diiringi musik, misalnya drum. b. Ayo dorong terus (jenis : perlombaan) 1) Tijuannya melatih gerakan lokomotor, yaitu merayap. 2) Sarananya tusuk gigi dan kacang merah yang sama besarnya. Tempat bermain di dalam ruangan, diusahakan berlantai ubin. 3) Sasarannya anak TK kelas B 4) Cara bermain a) Anak – anak (kurang lebih 5 – 10 anak) berdiri diatas garis start dengan jarak kurang lebih 1 meter antara satu anak dengan anak lainnya. b) Didepan tiap anak dengan jarak sesuai kemampuan anak dibuat lingkaran – lingkaran untuk tiap anak. c) Tiap anak mendapat sebuah tusuk gigi yang diletakkan dimulut anak, seperti orang merokok (tiap ganti pemain, diganti tusuk gigi yang baru untuk mencegah penularan penyakit). d) Kacang merah diletakkan dilantai didepan setiap anak. e) Guru memberi aba – aba “ayo dorong”, lalu anak – anak cepat merebahkan diri kelantai dengan posisi tiarap menghadap kacang masing – masing, lalu dengan tusuk gigi dimulut mereka mulai mendorong kacang menuju lingkaran – lingkaran didepannya. f) Pemenangnya adalah anak yang paling cepat mendorong kacangnya masuk dalam lingkaran. g) Secara bergantian 5 – 10 anak yang lain maju untuk berlomba. Pemenang dari masing – masing tahap lomba dapat diminta untuk berlomba lagi. 5) Permainan kreatif untuk gerakan nonlokomotor c. Sedang apa sekarang? (jenis : latihan) 1) Tujuannya melatih anak dengan berbagai gerakan nonlokomotor, seperti duduk, berdiri, merentangkan tangan, berputar. 2) Sarananya tidak ada. 3) Sasarannya anak TK kelas A. 4) Cara bermain a) Anak – anak dibagi dalam 2 kelompok, misal kelompok A dan B. masing – masing kelompok berdiri berbanjar berhadapan. b) Guru memperkenalkan lagu “sedang apa sekarang?”, yaitu: Sedang apa, sedang apa, sedang apa sekarang? Sekarang sedang duduk, sedang duduk sekarang c) Lagu tersebut dinyanyikan oleh kelompok A. Begitu terdengar kata ‘duduk’ maka kelompok B harus segera duduk semua. Jika akhir lagu ada anak dari kelompok B yang belum juga ‘duduk’ maka anak tersebut dikeluarkan dari kelompok. d) Setelah itu, giliran kelompok B yang bernyanyi, dengan terlebih dulu dipersilahkan berdiskusi sejenak untuk mengganti kata ‘duduk’ dengan gerakan lain. Kata ‘duduk’ atau ‘sedag duduk’ dapat diganti dengan gerakan lain misalnya berdiri, berputar, geleng kepala, tutup mata, lambai tangan, dan sebagainya. Kelompok A harus segera memperagakan gerakan yang disebutkan dalam lagu dan anak yang belum dapat memperagakan gerakan sampai lagu berakhir ditarik dari kelompok. Begitu seterusnya bergantian, misalnya masing – masing kelompok diberi kesempatan 5 kali bernyanyi. Usahakan tiap lagu tersebut diulang gerakan yang diinginkan belum pernah disebutkan sebelumnya. Jika ada kelompok yang salah menyebutkan gerakan yang pernah dilakukan maka guru berhak untuk mengalihkan hak kelompok tersebut kepada kelompok lawannya. e) Kelompok yang menang adalah kelompok dengan jumlah aggota yang lebih banyak pada akhir permainan. d. Bermain Cermin (jenis : bermain simbolik) 1) Tujuannya melatih anak meniruka perubahan gerakan orang/ benda lain seperti dimuka cermin 2) Sarananya cermin sebesar anak berdiri. 3) Sasarannya anak kelas B. 4) Cara bermain a) Guru memberikan kesempatan pada anak untuk mengamati dirinya pada cermin dan menanyakan “bila kau membuat gerakan apa yang kau lihat dengan bayanganmu?” b) “ia membuat gerakan yang sama”. c) Setelah anak memahami bahwa cermin bisa meniru gerakan, anak – anak secara berpasangan diminta berhadap – hadapan dengan anak lain. Lalu secara bergantian anak membuat gerakan dan pasangannya menirukan gerakan tersebut. Jika cara meniru gerakan salah maka guru atau anak lain dapat membantu mengarahkan. 3. Permainan Kreatif untuk Olah dan Kontrol Tubuh a. Burung – burung dipohon (jenis : dramatisasi irama bebas) 1) Tujuannya melatih pengomtrolan gerakan tubuh untuk berlari, berhenti, sambil menyesuaikan dengan irama. 2) Sarananya tape recorder, kaset, lapangan terbuka yang cukup luas, anak – anak dalam jumlah 3n + 1 (minimal 7 anak bisa 10, 13, 16 anak, dst) 3) Sasarannya anak TK kelas A atau B 4) Cara bermain a) Setiap 3 anak membentuk 1 pohon dan 1 ekor burung. Caranya: 2 anak saling berpegangan erat berhadapan dan mengurung 1 orang anak (sebagai burung) b) Seorang anak yang tidak mendapat kelompok berperan sebagai 1 ekor burung diluar pohon. c) Permainan dimulai dengan nyanyian tentang burung, misalnya ‘burung kutilang’ dari ibu sud yang dimainkan dari tape recorder dan boleh juga sambil dinyanyikan oleh seluruh anak sambil melakukan gerakan bebas dikelompok masing – masing. Anak yang berada diluar ‘pohon’ boleh bergerak berkeliling sambil merentangkan tangan atau gerakan lainnya. d) Apabila lagu berhenti, burung yang hinggap dipohon harus terbang keluar dan berganti tempat, sementara itu burung yang ada diluar pohon harus berusaha mencari pohon yang kosong. e) Dengan demikian, akan tetap ada 1 ekor burung yang berada diluar pohon dan permainan dapat diulang lagi sampai anak – anak puas. b. Kereta Dorong (jenis: perlombaan) 1) Tujuannya melatih anak untuk melakukan gerakan tubuh yang membutuhkan keseimbangan. 2) Sarananya, ruangan bermain atau lapangan berumput. 3) Sasarannya anak TK kelas B 4) Cara bermain a) Permainan ini dimainkan secara berpasangan. Setiap pasang anak berperan seperti satu kereta dorong yang akan berlomba ke garis akhir. b) Guru membuat garis start dan finis denga jarak sekitar 6 meter. c) Guru meminta setiap pasangan anak untuk membentuk kereta dorong dengan cara tiap pasangan anak berdiskusi untuk menentukan siapa yang akan menjadi kereta dorong lebih dulu. Anak yang terpilih mengambil posisi merangkak, seperti aka push up (kedua tangan dan kaki bertumpu ditanah seperti hewan berkaki 4). d) Kemudian, pasangannya berdiri dibelakang temannya tersebut dan mengangkat kaki temannya yang sedang merangkak, seolah – olah pegangan kereta dorong. Bila ada yang kesulitan mengangkat kaki temannya maka guru membantu mengangkatnya. e) Bila semua pasangan telah siap dengan kereta dorongnya, guru memberi aba – aba ‘jalan’ lalu semua kereta dengan pendorongnya bergerak maju lurus kedepan sampai garis finis. f) Setibanya di garis finis, tiap pasangan berganti peran. Kereta menjadi pendorong dan pendorong menjadi kereta, lalu berjalan menuju garis start. g) Pemenangnya adalah pasangan yang lebih dulu sampai garis start kembali tanpa melepaskan pegangan keretanya sejak awal.

TAHAP PERKEMBANGAN ANAK USIA 2-4 TAHUN

TAHAP PERKEMBANGAN ANAK USIA 2-4 TAHUN tahap perkembangan anak usia 2-4 tahun menakjubkan yang lainnya, di lihat dari 4 aspek: 1. Aspek Kognitif Anak usia 2-4 tahun, berada dalam tahap Pra Operasional (subtahap fungsi simbolis), yaitu tahap dimana anak dapat menerima rangsangan dan memberikan respon, namun sifatnya masih terbatas karena anak masih berpikir konkret. Pemikiran pra-operasional masih mengandung dua keterbatasan : egosentris (tidak mampu membedakan perspektif sendiri dengan perspektif orang lain) dan animisme (berpikir bahwa objek tak bergerak/tak hidup memiliki kemampuan seperti makhluk hidup, misal bisa berbicara,di ajak berdialog,menyerang,dsb). Secara umum, anak usia 2 tahun mulai bisa: - mengelompokkan benda, misal: bentuk atau warna - bermain peran/pura-pura Mulai usia 3-4 tahun, anak juga mulai bisa: - memahami konsep jumlah dan berhitung (sampai 10) - mengenal beberapa nama warna - memahami masalah bila dikaitkan dengan diri sendiri, "kalau aku dipukul, nanti sakit” - paham konsep persamaan dan perbedaan dengan contoh benda yang konkret - menyusun puzzle sederhana - kenal susunan kata yang sudah familiar - paham simbol dan artinya - kenal beberapa huruf dan angka - bermain dengan imajinasi dan fantasi - paham konsep posisi, “di dalam”, “di luar” " di atas", "di bawah" - bertanya dengan kata apa, siapa, kapan, dimana, bagaimana - kenal konsep urutan kejadian - kenal konsep waktu (sekarang, besok, dan waktu tertentu seperti “nanti malam”. Konsep lampau seperti “kemarin” lebih sulit bagi anak usia ini). 2. Aspek Fisik/Motorik Memasuki usia 2 tahun, si bayi chubby nan menggemaskan akan semakin tumbuh memanjang, terutama bagian tungkai (tangan dan kaki). Dengan semakin matangnya fisik anak, memungkinkan anak melakukan kegiatan fisik yang sebelumnya belum dikuasai. Anak 2 tahun mulai bisa berlari, bangun sendiri saat jatuh, mengambil dan meletakkan benda. Sedangkan si 3-4 tahun pada umumnya sudah mulai bisa: - naik tangga dengan kaki bergantian, turun tangga denganbmengandalkan satu kaki - lompat dengan dua kaki - menjaga keseimbangan - lempar-tangkap bola dengan gerakan tubuh bagian atas (biasanya mendekap bola ke dada) - mengendarai sepeda roda tiga - membangun menara dari balok-balok - memasukkan tali atau benang ke dalam lubang (misal: meronce) - menggambar garis-garis silang dan lingkaran - memanipulasi obyek tanah liat/playdough dengan membuat bentuk-bentuk - mengambil dan menyusun potongan-potongan puzzle sederhana - menggunting dengan mengikuti garis tanpa terputus - menelusuri garis dengan alat tulis (tracing). - meniru gambar bentuk(misalnya kotak, segitiga, lingkaran). Kemampuan ini akan sangat berperan saat anak belajar menulis huruf dan angka - sebagian anak juga mulai menulis beberapa huruf kapital yang mudah (misalnya I, A, O, T, L) 3. Aspek Bahasa Anak usia 2-4 tahun mengalami ledakan bahasa dengan meningkatnya jumlah kosakata yang pesat, dan mulai lebih banyak mengeksplorasi dunia sekitar mereka dengan bahasa. Aspek bahasa sangat erat kaitannya dengan aspek kognitif. Secara umum, anak usia 2 tahun mulai bisa: - bicara kalimat sederhana dengan 2-3 kata - menunjuk benda/gambar yang disebutkan - mengenali nama orang, benda, dan bagian tubuh yang familiar - bertanya nama benda “ini apa?” - mengikuti instruksi sederhana, “pakai baju” - mengulangi kata yang didengar - memahami arti gestur yang familiar, seperti anggukan (iya, boleh), gelengan (bukan, tidak, jangan), telapak tangan di depan (stop, toss) - menjawab pertanyaan sederhana Sedangkan anak usia 3-4 tahun, mulai bisa: - bicara kalimat sederhana dengan 3-5 kata - menggunakan kata ganti “aku”, “kamu”, “dia”, dan “kita” - mengikuti instruksi bertahap, bisa 2 atau 3 tahap sekaligus. Misalnya, “pakai sepatu, ambil tas, lalu berbaris di depan pintu” - mengingat cerita/kata-kata yang pernah didengar, sebagian/seluruhnya. Juga menceritakan kembali kejadian yang pernah dialami 4. Aspek Sosio-Emosional Menurut Erikson, pada usia 2-3 tahun, anak akan memasuki tahap Autonomy vs Shame&Doubt (mandiri vs ragu), ditandai dengan anak yang: - cenderung aktif mencoba berbagai hal - mulai pintar menolak (bilang “nggak mau”) - mulai tantrum (mau menunjukkan keinginannya) - merasa dirinya bisa (“aku aja”,” aku bisa”) dan tidak mau di bantu - bisa main sendiri dan tidak harus ditemani - mulai berbagi, paham hak orang lain Pada tahap ini, Ayah Bunda tidak perlu terlalu membatasi ruang gerak anak, karena hal ini akan mempengaruhi kelak apakah anak akan tumbuh mandiri dan berinisiatif, atau justru ragu-ragu dan selalu merasa bersalah. Biarkan anak berusaha mandiri dan bebas bereksplorasi, namun tentu saja tetap dengan batasan/aturan tertentu. Orang tua juga perlu untuk berempati dan melatih anak mengenali emosinya. Saat anak berusia 3 tahun, diharapkan bisa: - berpisah dari orang tua tanpa menolak - menjukkan kasih sayang ke saudara / teman - memahami konsep kepemilikan, lebih paham aturan dan kooperatif - bisa mengungkapkan emosi, bukan dengan menangis - temperamen cenderung stabil - semakin mandiri untuk perawatan diri (seperti mandi, buang air, pakai baju)

PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR ANAK USIA 2-4 Tahun

PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR ANAK USIA 2-4 Tahun Massa otot juga bertambah dan kemampuan koordinasi gerakan juga semakin baik (tentunya dengan dibantu juga dengan stimulasi). Kematangan secara fisik ini memungkinkan anak untuk melakukan kegiatan fisik yang sebelumnya tidak bisa dikuasainya. Kemampuan gerak dasar dibagi menjadi tiga kategori, yaitu: Locomotor : kemampuan untuk memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat lain atau untuk mengangkat tubuh ke atas. Contoh gerakannya adalah melompat-lompat seperti kelinci atau meloncat ke depan dan belakang. Kemampuan gerak lainnya adalah berjalan, berlari, meluncur ke bawah (misalnya dari atas gundukan tanah), dan galloping (berlari seperti kuda) Non locomotor : kemampuan untuk melakukan gerak yang dilakukan di tempat. Kemampuan non locomotor terdiri dari menekuk dan meregangkan tubuh (misalnya membungkuk menyentuh ujung kaki), mendorong dan menarik (misalnya membuka pintu/lemari), mengangkat dan menurunkan (misalnya membawa barang dan meletakkannya), melempar, dan lain-lain Kemampuan manipulatif. Dalam istilah perkembangan, kata “manipulatif” kira-kira berarti melakukan sesuatu terhadap benda, atau mengutak-atiknya. Dalam aspek motorik, kemampuan manipulatif banyak melibatkan tangan dan kaki, tetapi bagian lain dari tubuh kita juga dapat digunakan. Misalnya, memantul-mantulkan bola, membangun bentuk-bentuk dari mainan balok/Lego, meronce, dan membentuk kertas sesuai keinginan. Kemampuan ini biasanya memerlukan koordinasi mata dan tangan/kaki. Sedangkan dari segi jenis otot yang digunakan, keterampilan motorik dibagi menjadi 2, yaitu motorik kasar dan motorik halus. Motorik kasar: membutuhkan keseimbangan dan koordinasi antar anggota tubuh, dengan menggunakan otot-otot besar (misalnya seluruh badan, otot lengan dan kaki). Pada anak usia 2 tahun, aktivitas motorik kasar yang sudah dikuasai antaranya adalah anak mulai bisa berlari, bangun sendiri saat jatuh, serta mengambil dan meletakkan benda. Sedangkan anak usia 3-4 tahun pada umumnya sudah mulai bisa melakukan hal berikut: Berhenti berjalan dan berlari, atau berpindah arah saat berjalan dan berlari, dengan cepat Naik tangga dengan kaki bergantian, turun tangga dengan mengandalkan satu kaki Lompat dengan dua kaki sejauh 30-60 cm, ada juga yang sudah mulai bisa lompat dengan satu kaki Menjaga keseimbangan (misalnya naik papan titian) Lempar-tangkap bola dengan gerakan tubuh bagian atas (biasanya mendekap bola ke dada). Kegiatan lempar tangkap bola juga membutuhkan koordinasi mata-tangan Mengendarai sepeda roda tiga Meniru gerakan, misalnya saat berolahraga atau saat menonton gerakan di video. Kemampuan ini juga berhubungan dengan kemampuan kognitif anak. Motorik halus: kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil (misalnya otot-otot ujung jari) serta koordinasi mata dan tangan (hand-eye coordination). Contohnya: meronce, memegang alat tulis dan membuat coretan, merobek kertas, menempelkan benda, mengambil benda dengan ujung jari. Anak usia 2 tahun sudah mulai belajar memegang benda dengan ujung jari, membuat coretan (scribble), dan membalik halaman buku. Anak berumur 3-4 tahun pada umumnya sudah bisa melakukan hal-hal berikut: Membangun menara dari balok- balok Memasukkan tali atau benang ke dalam lubang (misalnya meronce manik-manik) Menggambar garis-garis silang dan lingkaran Memanipulasi obyek tanah liat/playdough dengan membuat bentuk-bentuk Mengambil dan menyusun potongan-potongan puzzle sederhana Menggunakan peralatan makan (sendok dan garpu) Menggunakan gunting, menggunting dengan mengikuti garis tanpa terputus Menelusuri garis dengan alat tulis (tracing). Anak bisa menelusuri garis untuk menggambar bentuk Meniru gambar bentuk dasar (misalnya kotak, segitiga, lingkaran). Kemampuan ini akan sangat berperan saat anak belajar menulis huruf dan angka Sebagian anak juga mulai menulis beberapa huruf capital yang mudah (misalnya I, A, O, T, L) membuka dan menutup kotak Kecepatan perkembangan motorik anak mungkin akan berbeda-beda. Ada anak yang lebih cepat menguasai keterampilan motorik halus, ada juga anak yang lebih unggul di motorik kasar. Ada pula anak yang butuh waktu lebih lama untuk menguasai keduanya. Seperti halnya aspek lain dalam perkembangan, hal ini dipengaruhi oleh dua faktor yaitu: (1) faktor bawaan dan (2) pengasuhan. Faktor bawaan menentukan kematangan anak, atau kesiapannya untuk mempelajari keterampilan baru. Misalnya, anak usia 24 bulan belum bisa naik sepeda roda dua walaupun diberi stimulasi yang sangat banyak, karena otot-ototnya belum cukup kuat dan keseimbangannya belum cukup. Di sisi lain, faktor pengasuhan (nurture) juga mempengaruhi kecepatan dan keluwesan anak dalam melakukan gerak motorik kasar ataupun halus. Kedua faktor ini saling berhubungan dalam menunjang atau justru menghambat perkembangan anak.

Selasa, 25 Juni 2019

Kesadaran Diri pada Anak

Kesadaran Diri pada Anak

1. Pengertian Kesadaran Diri (Self-Awareness)
 Self-awarness atau kesadaran diri adalah wawasan kedalam atau wawasan mengenai alasan-alasan dari tingkah laku sendiri atau pemahaman diri sendiri.
2. Bentuk-Bentuk Self-Awareness
Menurut Baron dan Byne tokoh psikologi sosial, mengatakan bahwa self-awarness memiliki beberapa bentuk diantaranya:
A. Self-awarness subjektif adalah kemampuan organisme untuk membedakan dirinya dari lingkungan fisik dan sosialnya.
B. Self-awarness objektif adalah kapasitas organisme untuk menjadi objek perhatiannya sendiri, kesadaran akan keadaan pikirannya dan mengetahui bahwa ia tahu dan mengingat bahwa ia ingat.
C. Self-awareness simbolik adalah kemampuan organisme untuk membentuk sebuah konsep abstrak dari diri melalui bahasa kemampuan ini membuat organisme mampu untuk berkomunikasi, menjalin hubungan, menentukan tujuan mengevaluasi hasil dan membangun sikap yang berhubungan dengan diri dan membelanya terhadap komunikasi yang mengancam.

3. Karakteristik dalam Pembentukan Self-Awareness
Menurut Charles dalam pembentukan self-awarnessdalam diri seseorang dibutuhkan sebuah kerangka kerja yang terdiri dari:
A. Attention (atensiperhatian) adalah pemusatan sumber daya mental ke hal-hal eksternal maupun internal. Kita dapat mengarakan atensi kita ke peristiwa-peristiwa eksternal maupun internal, dan oleh sebab itu kesadaran pun dapat kita arahkan ke peristiwa eksternal dan internal.
B. Wakefulness (kesiagaan/kesadaran) adalah kontinum dari tidur hingga terjaga. Dalam bagian kerangka kerja awareness ini, kesadaran adalah suatu kondisi mental yang dialami seseorang sepanjang kehidupannya.
C. Architecture (arsitektur ) adalah lokasi fisik struktur fisiologis dan proses-proses yang berhubungan dengan struktur tersebut yang menyongkong keteraturan dan ketertiban.
D. Recall of knowledge (mengingat pengetahun) adalah proses pengambilan informasi tentang pribadi yang bersangkutan dengan dunia sekelilingnya.
E. Self knowledge (pengetahuan diri) adalah pemahaman tentang informasi jati diri pribadi seseorang. Pertama, terdapat pengetahuan fundamental bahwa anda adalah anda.
4.Elemen Kunci Kesadaran Anak Terhadap Diri
A. Kesadaran pada Indera
Bila individu lost in thought umumnya perhatian akan terfokus pada salah satu indera akibatnya tidak semua sensasi dapat diperhatikan. Individu tidak bisa konsentrasi pada banyak hal sekaligus.
B. Kesadaran pada Fenomena Internal (Memori)
Sesuatu yang diindera maka akan dimasukkan dalam kondisi preconscious (preconscious state). Saat mengingat kembali maka yang ada dalam preconscious akan dibawa ke kesadaran (conscious state) tetapi ada memori yang kurang dapat diakses dan disebut gagasan-gagasan tak sadar (unconscious ideas) gagasan tak sadar inilah yang dimaksud oleh Sigmund Freud sebagai hal yang ditekan karena mengancam kepribadian.
Bila kesadaran baik, maka orientasi; waktu, tempat dan orang baik, pemahaman baik, Informasi yang masuk efektif (melalui memori dan pertimbangan. Kesadaran melibatkan:
a. Pemantauan diri dan lingkungan sehingga dapat melakukan kegiatan secara normal;
b. Pengendalian diri dan lingkungan, sehingga kita dapat memulai dan mengakhiri aktivitas perilaku dan kognitif.

5. Metode Pembelajaran dalam Kesadaran Diri Anak
A. Puppet (Permainan hand puppet)
Hand puppet atau permainan dengan menggunakan boneka tangan, merupakan salah satu permainan yang digemari anak-anak usia dini. Melalui permainan ini anak akan belajar berkomunikasi, berimajinasi, mengekspresikan perasaannya dan meningkatkan kepercayaan dirinya. Dengan adanya manfaat yang cukup besar dalam mengekspresikan emosi, sebagian terapis telah menggunakan permainan hand puppet ini untuk terapi. Dengan permainan ini, anak-anak yang mengalami permasalahan emosional pun dapat terbantu.
Dengan model ini anak diajarkan untuk bermain terarah dan menggali pengalamansendiri. Dengan demikian, menurut penulis boneka jari dapat digunakan sebagai media untuk anak dapat menumbuhkan rasa percayaa dirinya melalui bermain terarah dan menggali pengalaman langsung.
Boneka jari adalah boneka yang dapat dimasukkan kejari tangan, bentuknya kecil seukuran jari tangan orang dewasa. Jenis boneka yang digunakan adalah boneka jari yang terbuat dari potongan kain flanel. Boneka jari adalah media yang dapat digunakan oleh guru berupa boneka yang terbuat dari kain flanel yang dapat dimasukkan kejari tangan yang memiliki karakter dan bentuk yang tertentu.
Tujuan permainan boneka jari menurut Zaman, dkk. yaitu untuk mengembangkan bahasa anak, mempertinggi keterampilan dan kreativitas anak, mengajak anak belajar bersosialisasi, dan bergotong royong disamping melatih keterampilan jari jemari tangan.
Boneka jari dapat dibentuk menjadi beberapa karakter sesuai dengan pembelajaran yang akan diberikan oleh guru. Menurut Sujiono, anak pada usia 3-6 tahun senang mendengarkan dan menceritakan kembali cerita sederhana dengan urut dan mudah dipahami. Dengan demikian, pada saat memberikan pelajaran, anak diminta untuk memainkan boneka jari tersebut melalui cerita sederhana.
Cerita yang dapat dibawakan dapat disesuaikan dengan teman-tema yang dikembangkan berdasarkan tingkat perkembangan anak. Contoh pengembangan tema menurut Sujiono (2011:220) antara lain: sekolahku, identitasku, keluargaku, kesukaanku, alam sekitarku, hari besarku.
Guru dengan segenap kreativitasnya membentuk boneka jari sesuai dengan tema yang dipilih. Contohnya, tema yang dipilih keluarga, maka setidaknya karakter pada boneka jari terdapat anggota keluarga yaitu ayah, ibu, adik dan kakak. Cara penggunaan boneka jari ini dengan cara guru menceritakan sebuah cerita sesuai dengan tema yang dipilih dengan menggerakkan boneka jari sebagai medianya. Setelah itu, anak diminta untuk menceritakan kembali sesuai dengan yang dicontohkan oleh guru. Selain untuk menumbuhkan percaya diri, dengan bercerita menggunakan boneka jari dapat mengembangkan kemampuan bahasa anak usia dini.

B. Drama atau Bermain Peran
Pengertian metode bermain peran adalah memerankan tokoh-tokoh atau benda-benda disekitar anak dengan tujuan untuk mengembangkan daya khayal (imajinasi), dn penghayatan terhadap bahan pengembangan yang dilaksanakan. Dengan demikian yang dimaksud dengan metode bermain peran pada pembelajaran anak usia dini adalah sebuah cara agar anak-anak dapat mengembangkan kretaivitas dan imajinasinya untuk memerankan tokoh-tokoh yang ada disekitarnya. Tokoh-tokoh yang diperankan anak, baik berupa orang, binatang, maupun benda-benda yang dikenal oleh anak.
Jenis kegiatan bermain peran pada AUD seperti bermain peran dokter, guru, tukang sayur, ibu, anak, penjual, dan pembeli, serta masih banyak yang lainnya yang berkenaan dengan kehidupan di sekitar anak. Melalui kegiatan bermain peran, selain anak belajar berbicara dan mengomunikasikan pemikirannya, anak pun belajar menyimak apa yang disampaikan teman-temannya serta melihat dan memerhatikan sebagai peran yang dimainkan.
Langkah-langkah dalam pelaksanaan metode bermain peran adalah sebagai berikut. Pertama, menyiapkan naskah, alat, media, dan kostum yang akan digunakan. Kedua, menerangkan teknik bermain peran dengan cara sederhana yang mudah dimengerti dan dipahami anak. Ketiga, memberikan kebebasan pada anak untuk memilih peran yang disukainnya.
Keempat, menentukan sebagian anak yang akan menjadi penonton dan pendengar. Kelima, menyarankan kalimat pertama yang sebaiknya diucapkan oleh anak. Keenam, menghentikan permainan ketika sedang mencapai puncaknya, dan melakukan diskusi dengan para penonton dan pendengar mengenai masalah yang sedang terjadi dan bagaimana pemecahannya. Dan langkah yang terakhir setelah kegiatan selesai, guru melakukan evaluasi terhadap peran yang dimainkan anak.

C. Teknik Kura-Kura
Teknik kura-kura yaitu suatu cara dimana mengajarkan tentang tahap-tahap disuatu cara untuk mempermudah anak memahami setiap karakter. Adapun langkah-langkah dalam teknik kura-kura sebagai berikut yaitu merespon isyarat kata kura-kura dengan menarik lengan, kaki, dari kepala hingga mendekati tubuh merupakan suatu cara agar anak faham betuk dengan teknik yang diajarkan, menggabungkan respon ini dengan reaksi mengajarkan anak untuk dapat mudah peka dalam hal segala respon yang diberikan oleh guru, menggunakan pemecahan masalah anak-anak dengan teknik berpikir konsuekuensi dari berbagai perilaku yang mungkin nanti akan digunakan dimana mengajarkan dalam menyelsaikan masalah yang pada diri anak itu sendiri tanpa dibantu oleh orang tua dan guru sehingga hanya mengarahkannya saja jadi teknik-teknik disini dimana kita mengajarkan untuk mengembangkan segala kemampuan yang dimiliki oleh anak sehingga saat anak bertambah umurnya perkembagannya sesuai dengan karakter yang dimiliki oleh setiap anak.

D. Volume Clasification Technique (VCT)
Value Clarification Technique adalah pendekatan pendidikan nilai dimana peserta didik dilatih untuk menentukan, memilih, menganalisa, memutuskan, mengambil sikap sendiri nilai-nilai kehidupan yang ingin diperjuangkannya.
Bernade, menyatakan bahwa VCT adalah istilah sehari-hari dengan mengungkapkan niali-nilai mral pada peserta didik.
Sejalan dengan hal tersebut Adisusilo menyatakan bahwa dalam penerapan VCT maka anak tidak disuruh menghafal, dan tidak disuapi dengan niali-niali yang sudah dipilihkan pihak lain, melainkan dibantu untuk menemukan, menganalisis, mempertanggungjawabkan, mengembangkan, memilih, mengambil sikap, dan mengamalkan nilai-nilai hidupnya sendiri.
Terdapat berbagai macam jenis model VCT yang dapat digunakan:
a. VCT dengan percontohan/model cerita;
b. VCT dengan analisa tulisan;
c. VCT dengan model daftar atau matriks;
d. VCT dengan stimulasi atau bermain/bermain peran/games.

6. Emosi Dasar Manusia
Emosi sering diistilahkan juga sebagai perasaan atas hal ini dikatakan bahwa emosi biasanya disifatkan sebagai sesuatu keadaan (state) dari diri seseorang pada suatu waktu. Misalnya, seseorang merasa senang, sedih, terharu, dan sebagainya bila melihat sesuatu, mendengar sesuatu, dan bahkan mencium sesuatu. Singkat kata, emosi disifatkan sebagai suatu keadaan mental sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang pada umumnya datang dari luar; dan peristiwa-peristiwa tersebut pada umumnya menimbulkan kegoncangan-kegocangan pada diri orang tersebut.
Ekman dkk mengutarakan, meskipun demikian, kebanyakan peneliti menyebutkan bahwa daftar emosi dasar akan terdiri dari, setidaknya, kebahagiaan, marah, takut, sedih, dan jijik. Salah satu kesulitan dalam mendefinisikan serangkaian emosi dasar adalah bahwa terdapat perbedaan subtansi dalam deskripsi emosi dalam berbagai daya.
Misalnya, orang Jerman menyatakan bahwa mereka mengalami schandenfruede, perasaan menyenangkan melihat orang lain mengalami kesulitan, dan orang Jepang mengalami hagaii, perasaan sakit hati yang tidak dapat dihindari dan diwarnai oleh frustasi. Di Tahiti, orang mengalami musu, perasan penolakan untuk memenuhi permintaan yang tidak masuk akal dari orangtua seseorang.

A. Macam-Macam Emosi Dasar
a. Positif
Cinta: kesukaan, dan kegila-gilaan.
Kegembiraan: kebahagiaan, kepuasan, dan kebanggaan.
b. Negatif
Kemarahan: kekesalan, kebencian, kehinaan, dan kecemburuan.
Kesedihan: kesakitan, kenestapaan, perasaan bersalah, dan kesepian.
Ketakutan: kengerian, dan kekhawtiran.

B. Bentuk-Bentuk Reaksi Emosi
a. Reaksi amarah : hormon adrenalin meningkat, menyebabkan gelombang energi yang cukup kuat untuk bertindak dahsyat, maka tangan menjadi mudah menghantam lawan, detak jantung meningkat;
b. Reaksi takut : kaki akan lebih mudah diajak mengambil langkah seribu dan wajah menjadi pucat. Hal ini disebabkan karena di pusat-pusat emosi, otak memicu terproduksinya hormon seperti adrenalin, yang membuat tubuh waspada dan siap bertindak;
c. Reaksi kebahagiaan: perubahan utama akibat timbulnya kebahagiaan adalah meningkatnya kegiatan di pusat otak yang menghambat perasaan negatif dan meningkatkan energi yang ada, dan menenangkan perasaan yang menimbulkan kerisauan;
c. Reaksi perasaan cinta/kasih sayang, dan kepuasan seksual, mencakup rangsangan parasimpatik (secara fisiologis lawan/antagonik dari aktivitas simpatik), secara fisiologis adalah lawan mobilisasi "fight or flight" yang sama-sama dimiliki oleh rasa takut, maupun amarah. Pola parasimpatik, yang disebut " respon relaksasi", adalah serangkaian reaksi di seluruh tubuh yang membangkitkan keadaan menenangkan dan puas, sehingga mempermudah kerja sama;
d. Reaksi terkejut naiknya alis mata ketika terkejut memungkinkan diterimanya bidang penglihatan yang leb lebar dan juga cahaya yang masuk ke retina. Reaksi ini membuka kemungkinan lebih banyak informasi tentang peristiwa tak terduga, sehingga memmudahkan memahami apa yang sebenarnya terjadi dan menyususn rencana tindakan yang terbaik;
e. Reaksi perasaan jijik : Ungkapan ini tampak sama , dan memberi pesan yang sama ; sesuatu yang menyengat rasa atau bau. Ungkapan wajah rasa jijik ; bibir atas mengerut ke samping sewaktu hidung sedikit berkerut; dan
f. Reaksi perasaan sedih Kesedihan menurunkan energi dan semangat hidup untuk melakukan kegiatan sehari-hari, terutama kegiatan penghambat waktu dan kesenangan. Bila kesedihan semakin mendalam dan mendekati depresi, kesedihan akan meperlambat metabolisme tubuh, sehingga mengakibatkan kehilangan energi. Fungsi pokok rasa sedih adalah untuk menolong menyesuaikan diri akibat kehilangan yang menyedihkan, seperti kematian orang-orang dekat atau kekecewaan besar.

Tahap Perkembangan Kognitif Pada Anak

Tahap Perkembangan Kognitif Pada Anak

Perkembangan kemampuan kognitif anak akan menghasilkan kemajuan besar dalam enam tahun pertama. Pada masa ini, Ibu akan melihat si Kecil mulai memahami koneksi atau hubungan antara objek dan orang disekitarnya. Saat ia terus membuat kemajuan besar secara fisik dan mental, kemampuannya juga seharusnya tumbuh dan berkembang.
Libatkan diri sebagai orang tua dalam pengembangan keterampilan kognitif awal si Kecil. Hal ini akan medukung perkembangan awal si Kecil selangkah lebih maju. Pendekatan yang disarankan adalah melibatkan si Kecil dalam memahami dirinya sendiri. Hal ini kelak akan menentukan keberhasilannya di masa mendatang.
Beberapa perubahan pada si kecil tidak begitu mudah dikenali, terutama perubahan kognitif anak. Otak anak berkembang karena mereka memiliki pengalaman baru, dan biasanya bisa dilihat dari hal apa saja yang kini dapat dilakukan si Kecil.

Perkembangan Kognitif Anak Usia 1 Tahun

Saat Ibu melihat si Kecil bermain, Ibu akan melihatnya berkonsentrasi pada semua hal yang Ia lakukan. Setiap mainan, permainan dan aktivitas merupakan pengalaman baginya. Pada usia ini, si Kecil dapat mulai menarik kesimpulan dan membuat asosiasi untuk menemukan solusi atas berbagai masalah yang dihadapi. Perilaku meniru biasanya mendominasi proses belajar pada usia ini. Ia tidak lagi memegang barang-barang di sekitarnya secara acak, seperti yang dilakukannya di tahun pertama, kini Ia akan mulai menggunakannya dalam konteks yang tepat. Misalnya menggunakan sisir untuk rambutnya, mengoceh lewat telepon dan memutar kemudi mobil mainan.
Kegiatan yang dapat membantu perkembangan keterampilan kognitif si Kecil yang berumur 1 tahun:
  • Tepuk ketukan pada drum mainan atau permukaan sambil menghitung setiap ketukan. Si Kecil seharusnya mulai meniru ritmenya seiring dengan waktu.
  • Bicara tentang segala sesuatu di sekitar Ibu sambil menunjuk dan memberi nama benda atau bagian tubuhnya yang berbeda. Pegang jari dan bantu Ia menunjuk hidungnya seperti yang Ibu katakan "Ini hidung adik"
  • Mainkan teka-teki yang sesuai usia, permainan mencocokkan, permainan mengurutkan, dan menyusun balok dapat melibatkan anak balita dan anak-anak prasekolah dalam aktivitas yang mengharuskan mereka memikirkan suatu masalah dan menemukan solusinya.
  • Ajari si Kecil untuk bertepuk tangan sambil mengikuti ritme sebuah lagu saat diminta untuk melakukannya. Misalnya, nyanyikanlah “Jika Kau Suka Hati, Tepuk Tangan.”

Perkembangan Kognitif Anak Usia 2 Tahun

Pada usia ini, si Kecil mampu mengenali bayangannya sendiri di cermin, mengatakan nama sendiri atau nama panggilan lain yang sering disebut. Ia akan mulai menyortir objek dan membedakannya menjadi beberapa kelompok, misalnya mobil dan hewan. Si Kecil dapat mengomunikasikan apa yang mereka lakukan dengan menggunakan kata-kata dasar dan suka meniru tindakan orang dewasa. Ibu akan melihat adanya perubahan dalam pola berpikir si Kecil saat Ia mulai memahami kondisi sebab dan akibat (kombinasi tindakan-reaksi).
Kegiatan yang dapat membantu perkembangan keterampilan Kognitif si Kecil yang berumur 2 tahun:
  • Nyanyikan lagu anak-anak yang familiar yang mencakup nama benda atau hewan yang berbeda, seperti “Old MacDonald had a Farm”. Si Kecil dapat membantu Ibu memberi nama hewan yang akan membantu memperbaiki ingatan dan rentang perhatian jangka pendeknya.
  • Lakukan permainan "Apa yang ada dalam kotak?" Dengan menunjukkan benda yang berbeda sebelum menempatkannya dalam kotak. Kemudian mintalah Ia untuk mengingat dan memberi tahu barang apa saja yang ada di dalamnya.
  • Berlatih menyanyikan lagu alfabet. Bantu si Kecil mengingat abjad dan tunjukkan juga melalui buku bergambar.
  • Beri pertanyaan pada si kecil yang akan melatihnya mencari jawaban dan solusi sendiri.
  • Minta si Kecil untuk mencocokkan wadah berbagai ukuran dengan tutupnya yang sesuai

Perkembangan Kognitif Anak Usia 3 Tahun

Si Kecil yang berumur 3 tahun mulai memahami konsep waktu dan mampu membedakan antara "sekarang", "segera" dan "nanti". Ia mulai mengurutkan objek berdasarkan satu ciri seperti bentuk, ukuran atau warna. Perlahan Si Kecil akan lebih memahami konsep ukuran, misalnya objek mana yang lebih besar dibandingkan dengan yang lain. Ia bisa menunjukkan dengan jari-jari saat ditanya mengenai umurnya. Kini Ia sudah memiliki konsentrasi yang lebih baik, meski terkadang masih dapat mudah terganggu. Pertanyaan "Mengapa" & "Bagaimana" akan menjadi bagian dari diskusi harian Ibu karena Ia menjadi lebih ingin tahu dengan dunia di sekitarnya.
Kegiatan yang dapat membantu perkembangan keterampilan kognitif si Kecil yang berumur 3 tahun:
  • Bantu si Kecil memiliki pemahaman terkait kata dan benda. Sebagai contoh, tunjukkan kepadanya kata "kucing" dan kemudian bantu dia mengenali objek kucing sebenarnya dalam kehidupan nyata.
  • Kegiatan memilah benda akan mengembangkan kemampuannya untuk menyortir, menyusun dan mengklasifikasikan objek sesuai warna, bentuk dan ukuran.
  • Lakukan permainan memori bersama si Kecil, misalnya mencocokkan kata-kata dengan gambar yang tepat
  • Berikan si Kecil puzzle, seperti menyortir bentuk, atau yang akan melatihnya belajar tentang berbagai bentuk dan ruang
  • Pilih kategori seperti warna atau bentuk. Kemudian bergiliran temukan contoh dari lingkungan sekitar Ibu dan si Kecil. Misalnya, cari semua barang yang berwarna biru atau bulat.

Perkembangan Kognitif Anak Usia 4 Tahun

Pada usia ini, keterampilan memecahkan masalah menjadi lebih efektif. Misalnya mulai dapat melakukan hipotesis, menguji, menganalisis dan mengevaluasi setiap tugas yang ada. Ia akan mulai merencanakan dan berpikir ke depan, juga melakukan sesuatu untuk tujuan tertentu. Keterampilan komunikasinya juga meningkat, karena sekarang Ia dapat mengingat lebih banyak kata yang memampukannya untuk mengkomunikasikan perasaan dan emosi. Ia sekarang bisa megikuti aktivitas dengan peraturan, misalnya permainan kartu dan permainan sederhana lain yang memerlukan giliran, kesabaran dan kerja sama.
Kegiatan yang dapat membantu perkembangan keterampilan kognitif si Kecil yang berusia 4 tahun:
  • Bermainlah petak umpet dengan si Kecil, hal ini memberinya kesempatan untuk mengeksplorasi sambil mencari lokasi yang mungkin merupakan tempat Ibu bersembunyi di dalam rumah
  • Mintalah si Kecil untuk membantu Ibu memilah pakaian yang berbeda berdasarkan pemiliknya. Misalnya, campurkan pakaian dari setiap anggota keluarga dan minta Ia menebak siapa pemilik dari masing-masing pakaian tersebut.
  • Mulailah permainan di mana si kecil harus mengikuti berbagai instruksi yang Ibu berikan kepadanya. Misalnya, "duduk", "letakkan satu tangan di kepala" Atau "berdiri dengan satu kaki"
  • Permainan "Ya atau Tidak": ajukan pertanyaan kepada si Kecil yang jawabannya bisa benar atau salah, kemudian minta Ia untuk menjawab dengan “ya atau tidak”. Misalnya "Langit berwarna merah.“

Perkembangan Kognitif Anak Usia 5 Tahun

Masa pra-sekolah adalah dimana Ia mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang cepat, terutama pada kemampuan berpikirnya. Si Kecil yang penasaran dan ingin tahu lebih mampu melakukan percakapan. Kosa katanya berkembang seiring dengan proses berpikirnya. Si Kecil tidak hanya bisa menjawab pertanyaan sederhana dengan mudah dan logis, tapi Ia juga bisa mengekspresikan perasaan dengan lebih baik. Sebagian besar anak di usia ini menikmati bernyanyi, berirama, dan menyusun kata-kata. Biasanya si Kecil juga bisa menghitung 10 atau lebih objek, mengenali setidaknya 4 warna dan 3 bentuk, mengenali huruf dan akan mencoba menuliskan namanya sendiri jika diajarkan. Kegiatan yang dapat membantu perkembangan keterampilan kognitif si Kecil berumur 5 tahun:
  • Mulailah permainan "tebak-tebakan", misalnya memberikan huruf pertama dari sebuah benda di sekitar. Si Kecil kemudian harus berpikir dan menebak berbagai pilihannya.
  • Mintalah si Kecil untuk memejamkan mata dan merasakan benda dengan berbagai bentuk dan tekstur untuk mengenali benda apa itu.
  • Mainkan permainan "Yang mana yang tidak termasuk?". Ibu bisa menamai barang-barang seperti buku, majalah, komputer dan kartu ulang tahun dan mengajaknya untuk mengidentifikasi mana yang paling menarik perhatian dan mengapa.
  • Tawarkan si Kecil puzzle yang menantang yang mengharuskannya untuk berpikir secara mandiri untuk

Perkembangan Kognitif Anak Usia 6 Tahun

Si Kecil berusia enam tahun akan senang menjalani peran dan tanggung jawab baru. Mereka dapat memberi perhatian yang lebih lama namun tetap lebih memilih aktivitas yang terstruktur dan pasti daripada aktivitas yang memiliki hasil akhir berbeda-beda. Pada usia ini, si Kecil masih memerlukan banyak arahan dari Ibu dan sering mengajukan pertanyaan untuk memastikan bahwa Ia menyelesaikan tugas dengan cara yang benar. Berkembangnya kemampuan perencanaan dan penyelesaian masalah akan membuat Ia bersemangat untuk pergi ke sekolah, belajar membaca, serta mengeksplorasi konsep baru. Kegiatan yang dapat membantu perkembangan keterampilan kognitif si Kecil yang berumur 6 tahun:
  • Beri si Kecil kesempatan untuk membuat pilihan sederhana, seperti apa yang harus dipakai atau apa yang harus dimakan untuk camilan.
  • Dorong si Kecil untuk menjawab pertanyaan dengan pola sederhana yang terkait seperti "apa kata selanjutnya: matahari, bulan, matahari, matahari, bulan,?“
  • Beri nama beberapa benda dari satu kategori dan minta si Kecil untuk mengidentifikasi kategori dengan benar. Misalnya: kaus kaki, kemeja, baju dan celana masuk dalam kategori pakaian.
  • Mulai permainan baru yang mendorong pengembangan keterampilan memori dan pemecahan masalah (Nutriclub, 2019)

Pengertian Perkembangan Kognitif

Menurut Piaget, perkembangan kognitif mempunyai empat aspek, yaitu
  1. Kematangan
Kematangan merupakan poin pertama yang dianggap poin yang paling bisa dimasukan kedalam perkembangan kognitif. Selain bisa merubah kepribadian seseorang, aspek ini membuka adanya kemungkinan untuk perkembangan sedangkan jika hal ini kurang tentu akan membatasi secara luas prestasi jika dilihat dari sisi kognitif. Perkembangan berlangsung dengan kecepatan yang berlainan tergantung pada sifat kontak dengan lingkungan dan kegiatan belajar sendiri. Maka kematangan menjadi pilihan pertama.
Baca:
  1. Pengalaman
Mungkin anak-anak meruakan hudangnya penasaran, dimana mereka memiliki waktu yang banyak untuk mengembangkan pengetahuan dan mencari tahu pengalaman yang ada. Interaksi antara individu dan dunia luar merupakan sumber pengetahuan baru sehingga mencoba mencari pengalaman dan berempati pada orang lain, tetapi kontak dengan dunia fisik tentu tidak cukup untuk mengembangkan pengetahuan. Selain itu, kecuali jika intelegensi individu dapat memanfaatkan pengalaman tersebut.
Baca:
  1. Interaksi Sosial
Interaksi sosial merupakan hal penting, dimana bagian lingkungan sosialnya sudah termasuk kedalam peran bahasa serta pendidikan, pengalaman fisik juga bisa memacu ataupun menghambat perkembangan struktur kognitif anak tersebut.  (Baca: Penyebab Kenakalan Anak)
  1. Ekuilibrasi
Ekuilibrasi adalah proses pengaturan diri dan pengoreksi diri. Mengatur interaksi spesifik dari imasing-masing manusia dengan lingkungan maupun pengalaman fisik, pengalaman sosial dan perkembangan jasmani yang menyebabkan perkembangan kognitif berjalan secara sinkron dan juga tersusun dengan baik. (Baca: Terapi Perilaku Kognitif)
Menurut Piaget, anak-anak secara aktif membangun dunia kognitif mereka dengan menggunakan skema untuk menjelaskan hal-hal yang mereka alami seperti layaknya bercerita atau menjelaskan apa yang mereka alami. (Baca: Gangguan Mental Pada Anak)
Skema adalah struktur kognitif yang digunakan oleh manusia untuk mengadaptasi diri terhadap lingkungan dan menata lingkungan ini secara intelektual. Piaget (1952) mengatakan bahwa ada dua proses yang bertanggung jawab atas seseorang menggunakan dan mengadaptasi skema mereka:
  1. Asimilasi yaitu proses adanya penambahan informasi baru ke dalam skema yang sudah ada. Proses ini sifatnya subjektif, karena seseorang cenderung memodifikasi pengalaman ataupun informasi yang sudah diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada. (baca juga: Cara Meningkatkan Kecerdasan Emosional)
  2. Akomodasi yaitu bentuk penyesuaian lain yang melibatkan pengubahan atau penggantian skema karena hadirnya informasi baru yang tidak sesuai dengan skema yang sudah ada. Pada proses ini bisa terjadi pemunculan skema yang baru dan berubah sama sekali. (baca juga: Pengertian Bakat Menurut Para Ahli)

Karakteristik Kognitif Anak

Berikut adalah beberapa karakteristik terkait dengan kognitif anak, diantaranya adalah:
1. Karakteristik perkembangan kognitif anak usia 0 – 2 tahun
  • Dapat melihat cahaya dan mengikuti arah cahaya.
  • Sudah bisa menghitung maksimal 2-4 buah benda yang ia lihat.
  • Mengikuti isyarat dan bicara orang dewasa, karena di usia ini pemikiran mereka sama dengan mengikuti atau mengkopi. (baca juga: Macam-macam Gaya Belajar)
  • Mengetahui dan dapat menjelaskan objek yang diletakan tak jauh dari sekitar mereka yakni 8-10 inci di depan matanya atau disekitarnya. (baca juga: Cara Menghilangkan Trauma Pada Anak)
  • Menirukan isyarat-isyarat yang baru yang baru didengar atau dikenal oleh mereka.
  • Menamai atau menunjukkan pada gambar yang mewakili benda tertentu dan sering dilihatnya atau terbiasa dilihatnya. (baca juga: Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak)
  • Memahami kata minimal 2 kata depan atau bahasa sederhana yang tidak terlalu rumit.
  • Memperlihatkan ketertarikan dan ingin tahu pada sekitarnya dengan dengan membongkar sesuatu.
  • Mengingat benda yang ada dan bisa mengembalikanya ke tempat semula. (baca juga: Pola Asuh Anak Usia Dini)
2. Karakteristik perkembangan kognitif anak usia 2 – 4 tahun
  • Dapat menunjuk dan menyebut gambar sederhana dan juga mudah diingat.
  • Anak-anak dengan perkembangan kognitif tertarik mendengar seperti dongeng atau cerita (Baca: Teori Belajar Kognitif)
  • Dapat mengenal anggota tubuh.
  • Dapat mengenal dan mengelompokan warna. (baca juga: Cara Mengatasi Anak Pemarah)
  • Dapat sudah mengerti konsep seperti besar dan kecil, luas dan sempit dan lainnya.
  • Dapat mengenal fungsi benda dengan benar. Hal ini artinya dapat mengelompokkan benda berdasarkan bentuk,warna,ukuran dan fungsi secara sederhana. (baca juga: Fakta Kepribadian Anak Bungsu)
  • Ikut dalam kegiatan membaca dengan mengisi kata-kata atau kalimat yang kosong.
  • Dapat menunjukkan dan menyebutkan anggota tubuhnya.
  • Dapat mencocokkan hingga sebelas warna. (baca juga: Teori Psikologi Perkembangan)
3. Karakteristik perkembangan kognitif anak usia 4 – 6 tahun
  • Dapat mengetahui fungsi benda dengan benar.
  • Dapat mengelompokkan benda sesuai dengan bentuk, warna, ukuran dan fungsi secara sederhana.
  • Ikut dalam kegiatan membaca dengan mengisi kata-kata atau kalimat yang belum terisi.
  • Dapat menunjukkan dan menyebutkan anggota tubuhnya. (baca juga: Tahap Perkembangan Emosi Anak)
  • Dapat mencocokkan hingga sebelas warna.
  • Berusaha membaca dengan memperhatikan gambar. (baca juga: Gejala ADHD pada Bayi)
  • Sudah bisa membaca kata-kata singkat dan juga ringan seperti 4-6 huruf.
  • Dapat membaca cerita sederhana dengan lantang dan juga bersuara.
  • Dapat mana hal yang fantasi ataupun realita. (baca juga: Cara Mengenali Potensi Diri)

Tahap-tahap Perkembangan Kognitif

Menurut Piaget ada beberapa tahapan yang akan dilalui dalam Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini, antara lain :
A. Periode Sensorimotor
Periode sensorimotor yang terjadi pada 0 hingga 2 tahun. Dimana usia ini merupakan usia bayi lahir dengan refleks yang berasal dari lahir atau bawaan. Selain itu skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks sejak lahir. Periode ini merupakan periode pertama dengan 6 subtahapan yang menjelaskan antara penggunaan fisik dan pikiran serta gerak yang berasal dari refleks. (baca juga: Kecerdasan Spasial)
B. Periode Praoperasional
Periode selanjutnya yakni praoperasional. Pemikiran (Pra)Operasi menurut teori Piaget yaitu prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek yang ada. Ciri dari tahapan ini adalah tentu operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Selain itu, di dalam tahapan ini anak belajar menggunakan dan menjelaskan objek dengan gambaran maupun kata-kata meskipun masih terbata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain.
Baca:
C. Periode Operasional Konkrit
Ketiga yakni adanya tahapan operasional konkrit, tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Dalam perhitungan Piaget tahapan ini berada di usia 6 tahun lebih dimana mereka memiliki pemikiran tanggung. Anak-anak sudah bisa dikatakan mengerti namun belum paham 100% apa yang dimaksudkan. (baca juga:
D. Periode Operasional Formal
Terakhir yakni tahap operasional formal dimana dalam tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun atau bisa dikatakan saat pubertas, dan terus berlanjut sampai dewasa. Kognitif saat dewasa sendiri tidak berhenti begitu saja meskipun perkembangannya lambat. (Baca: Psikologi Remaja)
Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Sedangkan tahapan operasional formal ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis dan lainnya. (baca juga: Peran Ayah dalam Keluarga)
Rasanya meskipun mereka terkadang melihat segala hal secara abu, namun anak-anak di tahapan ini sudah menerima informasi dalam bentuk yang jelas dan detail serta bisa dipahami. Tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral dan hal lainnya yang membuat orang tua harus kembali mengawasi secara ekstra. (Baca: Ciri- Ciri Pubertas)
Baca:

Informasi umum mengenai tahapan-tahapan

Jika dilihat dari keempat tahapan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  • Tahapan memiliki waktu yang jelas namun pada kenyataanya, tahapan tersebut bisa dicapai dalam usia yang berbeda. Tidak semua anak menghadapi batasan usia yang sama karena tergantung dengan faktor lainnya.  Tidak ada ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang mundur.
  • Tahapan bersifat universal sehingga tidak terkait adat dan budaya. (baca juga: Teori Kebutuhan Maslow)
  • Bisa digeneralisasi maksudnya adalah representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri seseorang berlaku juga pada semua konsep dan isi pengetahuan. Sehingga cakupannya cukup luas.
  • Tahapan-tahapan tersebut berupa keseluruhan yang terorganisasi secara logis dan bisa ditalar dengan pemikiran orang dewasa. (baca juga: Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik)
  • Urutan tahapan bersifat hirarkis (setiap tahapan mencakup elemen-elemen dari tahapan sebelumnya, tapi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi) sehingga tidak berantakan dan sembarangan.
  • Tahapan merepresentasikan perbedaan secara kualitatif dalam model berpikir, bukan hanya perbedaan kuantitatif. Secara psikologi hal ini berefek juga dengan perkembangan kepribadian seseorang ke masa dewasanya. (Kumunitas PSIKOLOGI)